KOTA Bogor bukan sekadar tujuan wisata kuliner. Kota ini juga menyimpan jejak penting perjalanan bangsa, terutama sejarah Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA), pasukan yang berperan dalam jalan menuju kemerdekaan Indonesia.
Melansir Indonesia Kaya, Jumat (6/2/2026), pemerintah militer Jepang mengeluarkan dekrit pembentukan PETA. Pada awalnya, pembentukan pasukan tersebut untuk membantu Jepang menghadapi Sekutu. Namun kemudian, tokoh pergerakan nasional memanfaatkan PETA sebagai wadah menyiapkan kekuatan militer bagi cita-cita Indonesia merdeka.
Selanjutnya, Bogor memiliki posisi penting karena pendidikan perwira PETA pertama kali berdiri pada wilayah ini. Untuk mengenang peran tersebut, pemerintah membangun Museum dan Monumen PETA pada lokasi bekas pusat pendidikan militer perwira PETA, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 35.
Pemilihan lokasi mempertimbangkan beberapa faktor. Antara lain posisi strategis, udara sejuk, dukungan fasilitas, serta penerimaan masyarakat sekitar terhadap keberadaan pusat pendidikan militer pada masa perjuangan.
Pemrakarsa pembangunan Museum PETA adalah Yayasan Pembela Tanah Air, organisasi yang menghimpun mantan prajurit PETA. Pembangunan berlangsung pada 14 November 1993 dan rampung sekitar dua tahun kemudian. Presiden Soeharto, yang pernah menjadi perwira PETA angkatan I, meresmikan museum pada 18 Desember 1995.
ISI DAN KOLEKSI MUSEUM
Saat memasuki kawasan museum, pengunjung akan melihat prasasti marmer berisi kalimat bernuansa nasionalisme. Tulisan tersebut menggambarkan semangat persatuan para prajurit yang datang dari berbagai daerah dan berpisah sebagai kawan seperjuangan.
Kemudian, ruang pamer menampilkan diorama perjalanan tentara PETA dalam perjuangan kemerdekaan. Koleksi lain meliputi pakaian prajurit, senjata, serta foto dokumentasi aktivitas prajurit yang berasal dari arsip media massa masa itu.
Pada bagian belakang kawasan berdiri monumen dengan patung Daidancho Soedirman. Pangkat daidancho pada masa Jepang setara komandan batalyon. Tidak jauh dari sana terdapat patung Supriyadi, tokoh pemberontakan PETA terhadap pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945, yang berpangkat shodancho atau setara komandan pleton.
Selain itu, dinding monumen berbentuk setengah lingkaran memuat nama-nama perwira PETA dari berbagai daerah, mulai Jawa, Bali, Madura hingga Sumatra, lengkap dengan jabatan serta fungsi mereka.
Museum dan Monumen PETA membuka kunjungan untuk umum setiap hari kerja mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Kunjungan tutup pada Sabtu, Minggu, serta hari besar nasional.
Pada akhirnya, berkunjung ke Museum PETA membawa pengunjung menelusuri kembali masa perjuangan kemerdekaan. Tempat ini menunjukkan bagaimana semangat nasionalisme mampu melampaui kepentingan kelompok.
Bahkan dari sinilah pengunjung dapat memahami awal terbentuknya kekuatan militer nasional sekaligus mengenang jasa para perwira PETA yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia. (bro2)


