BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Pola distribusi BBM dari Kilang Pertamina Balikpapan memasuki fase baru. Jika sebelumnya pengiriman mengandalkan mekanisme ship to ship (STS) di tengah laut, kini produk BBM dialirkan melalui submarine pipeline menuju Fuel Terminal Tanjung Batu sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Transformasi ini menjadi bagian integrasi infrastruktur energi nasional untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan pasokan.
Melansir rilis BPH Migas, Minggu (1/3/2025), anggota Komite BPH Migas, Erika Retnowati, menjelaskan produk BBM dari KPB akan langsung terhubung ke terminal penerima.
“Nanti produk-produk (BBM) dari KPB itu akan dipompa ke FT Tanjung Batu melalui pipa bawah laut, setelah itu mendistribusikannya ke daerah-daerah. Tidak hanya Kalimantan tetapi sampai ke Makassar, Bali, dan daerah-daerah lainnya,” ujarnya saat pemantauan lapangan, Rabu (25/02/2026).
Menurut Erika, FT Tanjung Batu kini menggantikan sebagian pola STS sebelumnya.
“Akan sangat memotong biaya distribusi. Sebelumnya distribusi dalam lima STS. Kini tiga pola STS sudah berganti fungsinya oleh Terminal BBM. Ini akan sangat membantu distribusi (BBM) dan meningkatkan keandalan dari ketahanan energi seluruh wilayah Indonesia,” imbuhnya.
Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menambahkan keberadaan terminal tersebut tidak terpisahkan dari beroperasinya Refinery Development Master Plan Balikpapan (RDMP).
“Kami ingin memastikan bahwa FT Tanjung Batu ini sebagai supporting system dari pengembangan RDMP yang beberapa waktu lalu sudah Presiden Prabowo resmikan. Artinya, RDMP dan FT Tanjung Batu ini menjadi satu kesatuan,” ucapnya.
Fathul berharap tahap pipanisasi Tanjung Batu–Samarinda dan pembangunan Fuel Terminal Palaran berjalan sesuai jadwal.
“Mudah-mudahan bisa on time. Tidak ada kendala dalam pembangunannya. Dengan adanya pipeline ke Samarinda nanti tentunya distribusi (BBM) dari Tanjung Batu ini bisa berjalan lancar,“ terangnya.
Dorong Percepatan Start-Up RFCC
Sehari setelahnya, Kamis (27/2/2026), BPH Migas meninjau progres RDMP Balikpapan yang memasuki tahap start-up Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Unit ini mengonversi residu minyak berat menjadi produk BBM bernilai tinggi.
Anggota Komite BPH Migas, Eman Salman Arief, menyatakan proses tersebut menjadi momentum penting bagi kemandirian energi nasional.
“Kilang RDMP Balikpapan saat ini tengah berlangsung tahap startup Unit RFCC, kita doakan semoga dapat berjalan lancar sehingga mendukung penyediaan BBM, baik untuk Balikpapan maupun secara nasional,” ucapnya.
Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Hilir Migas, Mulyono, mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi, penggunaan alat pelindung, dan prosedur kerja demi menjaga keselamatan.
Direktur Infrastruktur Proyek dan Asset Integrity Pertamina Patra Niaga, Setyo Pitoyo, menyampaikan progres kapasitas kilang.
“Sampai saat ini kami terus melakukan best-effort dengan kondisi RFCC sudah mulai normal, dan crude intake akan naik bertahap menjadi 310 ribu BOPD. Apabila sudah selesai keseluruhan, crude intake akan ada optimalisasi menjadi 360 ribu BOPD pada Agustus 2026,” ujarnya. (bro2)



