BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan kebutuhan pasokan pangan daerah. Namun, Bank Indonesia menilai fluktuasi harga masih dapat dikendalikan dengan langkah antisipatif.
Kepala KPw Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan program MBG membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kalau kita lihat data, satu SPPG itu melayani sekitar 2.000 sampai 3.000 penerima,” ujar Robi, Rabu (4/2/2026).
Penerima MBG paling banyak adalah siswa dari setiap sekolah, dan Balikpapan kini memiliki 24 SPPG hingga Januari 2026. Artinya kebutuhan bahan pangan tersebut akan berdampak pada komoditas utama, seperti telur dan daging ayam.
Oleh karena itu, Bank Indonesia mulai memetakan sentra produksi dan distributor pangan agar terhubung langsung dengan SPPG. “Tujuannya agar tekanan harga pasar tidak terlalu berdampak,” jelasnya.
Selain itu, Bank Indonesia mendorong penguatan kerja sama antardaerah, baik tingkat lokal maupun antarprovinsi. Seperti kerja sama Balikpapan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Paser.
“Ya seperti penyediaan ayam, telur dan juga beras,” ucapnya.
Ia juga menegaskan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mendukung perluasan kerja sama tersebut. Pasalnya, langkah tersebut cukup krusial untuk menjaga kepastian pasokan.
“Dengan begitu, harga pangan bisa lebih terjaga, apalagi dengan adanya program MBG,” ucap Robi.
Sebagai informasi, Balikpapan mencatatkan deflasi sebesar 0,11 persen secara bulanan pada Januari 2026. Meski demikian, daging ayam ras menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi.
Robi menjelaskan kenaikan harga terjadi akibat penurunan pasokan ayam beku dari Jawa dan ayam segar lokal. “Pasokan menurun, sementara permintaan masih kuat. Kondisi itu memicu kenaikan harga daging ayam ras,” katanya. (bro2)


