INTERNASIONAL
Beranda / TOPIK / INTERNASIONAL / Festival Bunga Sakura Dekat Gunung Fuji Batal Akibat Overtourism

Festival Bunga Sakura Dekat Gunung Fuji Batal Akibat Overtourism

Jepang membatalkan festival bunga sakura dekat Gunung Fuji akibat overtourism dan gangguan wisatawan. Tradisi hanami tetap berlangsung di wilayah lain. (Unsplash)

BERANDAPOST.COM, TOKYO – Pemerintah Jepang membatalkan festival bunga sakura dekat Gunung Fuji setelah lonjakan wisatawan memicu masalah overtourism dan meningkatnya perilaku mengganggu dari pengunjung.

Festival bunga sakura untuk kawasan tersebut sebenarnya tergolong baru sejak 2016 silam. Namun, jumlah wisatawan yang terus meningkat membuat pemerintah setempat menilai penyelenggaraan acara tidak lagi memungkinkan tanpa mengganggu kenyamanan warga dan kelestarian lingkungan.

Melansir NDTV, Minggu (8/2/2026), Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, mengatakan keputusan pembatalan setelah mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan yang semakin terasa.

“Kami memiliki rasa krisis yang kuat. Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga, kami memutuskan menghentikan festival ini,” ujarnya.

Bagi masyarakat Jepang, bunga sakura memiliki makna budaya yang sangat penting. Tradisi menikmati mekarnya bunga sakura atau hanami, telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian dari identitas nasional.

NASA Siarkan Langsung Peluncuran SpaceX Crew-12 ke ISS

Catatan sejarah menunjukkan perayaan bunga sakura telah ada sejak abad ke-8 sebagai tradisi kalangan kekaisaran. Pada abad ke-17, tradisi tersebut mulai menyebar ke masyarakat umum pada periode Edo. Pada masa awal, masyarakat lebih banyak merayakan bunga plum sebelum akhirnya sakura menjadi simbol utama musim semi.

Hingga kini, hanami menjadi momen penting setiap tahun. Masyarakat berkumpul di taman untuk menikmati pemandangan bunga sakura, menggelar piknik, serta merayakan datangnya musim semi bersama keluarga dan teman.

MAKNA SPIRITUAL BUNGA SAKURA

Dalam kepercayaan tradisional Jepang, sakura juga memiliki makna spiritual. Masyarakat Jepang kerap mengaitkan bunga sakura dengan dewa pertanian dan muncul dalam berbagai cerita rakyat Shinto maupun Buddha. Bahkan mereka menganggap pohon-pohon sakura tua dan telah mendapat penanda khusus karena memiliki roh penjaga.

Sakura juga memiliki makna simbolis dalam sejarah Jepang. Kelopak bunga yang gugur sering melambangkan kefanaan hidup, nilai yang juga terkait dengan filosofi samurai tentang kehormatan dan keberanian.

Lonjakan wisatawan menjadi salah satu faktor utama pembatalan festival kawasan Gunung Fuji. Laporan menunjukkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jepang mencapai sekitar 42,7 juta orang pada 2025, meningkat dari 37 juta pada tahun sebelumnya. Nilai tukar yen yang relatif lemah serta popularitas musim sakura mendorong peningkatan kunjungan tersebut.

NASA Temukan Molekul Organik Komet Antarbintang 3I/ATLAS

Meski festival di satu wilayah dibatalkan, wisatawan masih dapat menikmati mekarnya bunga sakura di berbagai kota lain di Jepang, seperti Tokyo, Kyoto, Osaka, Hokkaido, dan Nara, yang tetap menggelar perayaan musim semi setiap tahun. (bro2)