BERANDAPOST.COM, SAMARINDA – Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan produk unggulan daerah tidak seluruhnya harus mengejar pendapatan asli daerah. Produk unggulan juga berperan sebagai penggerak ekonomi, penguat identitas, serta pelestari budaya kota.
Melansir laman Kominfo, Minggu (8/2/2026), Wali Kota Samarinda Andi Harun juga menyampaikan apresiasi atas kajian berbasis data dan pendekatan akademis. Menurutnya, dokumen tersebut menjadi pijakan penting bagi pemerintah saat mengambil kebijakan.
“Saya sangat menyukai kebijakan yang berbasis kajian seperti ini. Ada bantalan akademisnya, sehingga memberi kepercayaan diri bagi saya dalam mengambil keputusan, baik secara politis, publik, maupun dari sisi kehati-hatian terhadap penggunaan anggaran,” ujarnya.
Ia juga menegaskan tidak semua kebijakan pembangunan harus selalu mengukurnya dari pengembalian investasi bagi pemerintah daerah. Banyak kebijakan justru memberi manfaat luas bagi masyarakat.
“Kalau dampaknya besar bagi masyarakat, tidak apa-apa pemerintah tidak memperoleh manfaat langsung. Seperti pembangunan pasar, kalau mau menghitung pengembaliannya, hampir tidak mungkin kembali. Tapi manfaatnya besar karena memfasilitasi perputaran ekonomi dan memberi ruang usaha bagi ribuan orang,” jelasnya.
Wali Kota Samarinda ini juga mengusulkan pembagian produk unggulan daerah ke dalam tiga level strategis. Pertama, produk inti sebagai mesin penggerak utama ekonomi kota. Kedua, produk pendukung sebagai sektor pengganda dampak ekonomi. Ketiga, produk identitas dan budaya yang tidak semata ukurannya dari keuntungan.
“Kita jangan campur. Yang memang mau jadi budaya, tidak perlu menghitung untung ruginya. Seperti Sarung Samarinda, itu bukan soal laba, tapi soal memperkenalkan budaya,” ungkapnya.
Ia menilai produk budaya bukan sekadar simbol, melainkan identitas yang dikenal lintas wilayah. Makanan dan busana tradisional, menurutnya, sering menjadi penanda budaya suatu bangsa.
“Bahkan makanan itu identitas. Ada roti cane, nasi samin, dan lain-lain. Itu bukan sekadar konsumsi, tapi pengenal budaya,” ujarnya.
WALI KOTA SAMARINDA CONTOHKAN RUMAH MAKAN PADANG
Dalam konteks kuliner, ia mencontohkan rumah makan Padang sebagai produk berbasis budaya yang semua kalangan mampu menerimanya.
“Bahkan kemarin, ketika rumah makan Padang di Singapura mau tutup, sampai ada menteri yang turun tangan,” katanya.
Ia juga menyinggung kebijakan penataan kota yang memperkuat identitas lokal, seperti penggunaan motif Sarung Samarinda pada median jalan dan kawasan Citra Niaga.
“Kenapa median jalan saya ganti, itu bukan sekadar jejeran beton. Ada identitas Sarung Samarinda. Bahkan Citra Niaga juga, lantainya bercorak Sarung Samarinda,” tegasnya.
Selain pembagian level, Wali Kota menekankan pentingnya membangun ekosistem dan hilirisasi agar produk unggulan tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki produk turunan yang memperluas manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Arahan tersebut Andi Harun harapkan dapat masuk dalam policy brief sehingga menjadi dasar kebijakan yang lebih matang untuk mendorong pembangunan ekonomi Samarinda yang kuat, berkelanjutan, dan berakar pada identitas lokal. (bro2)


