BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Fenomena langit ini terkenal sebagai eclipse of the century karena durasi totalitasnya sangat panjang dan langka.
Pada tanggal tersebut, Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari. Kondisi ini tentu membuat siang hari berubah gelap.
Totalitas gerhana akan berlangsung sekitar 6 menit 23 detik. Durasi ini bahkan termasuk terlama untuk pengamatan dari daratan.
Jalur totalitas melintasi Afrika Utara, Eropa Selatan, dan Timur Tengah. Durasi terlama bakal terjadi untuk wilayah Mesir timur laut.
Saat totalitas, pengamat dapat menyaksikan korona Matahari. Korona hanya terlihat ketika Bulan menutupi Matahari sepenuhnya.
Melansir Detik yang mengutip Floo Bits, Senin (19/1/2026), korona tampak sebagai cahaya halus yang mengelilingi Bulan. Pemandangan ini juga jarang terlihat dan sangat memukau.
“Ini kesempatan sekali seumur hidup melihat pertunjukan alam paling dramatis,” ujar astronom Emily Lawson.
Ia bahkan menyebut proses gerhana memberi pandangan unik tentang Bumi dan Tata Surya. Perubahan cahaya terjadi secara bertahap dan presisi.
Para ahli menilai gerhana ini menunjukkan ketepatan orbit Bumi dan Bulan. Ukuran tampak Bulan mampu menutup Matahari sempurna.
Peristiwa ini juga menarik perhatian komunitas ilmiah dunia. Banyak penggemar astronomi merencanakan perjalanan khusus untuk menyaksikannya.
Selain itu, lembaga pendidikan memanfaatkan momen ini untuk edukasi sains. Gerhana juga menjadi sarana mengenalkan astronomi kepada publik.
Meski gerhana parsial dan cincin masih terjadi pada 2026, peristiwa 2027 akan paling lama hingga setelah 2100.
Fenomena ini menjadi momen kolektif untuk mengagumi keteraturan alam semesta. Pengamat langit tentunya sangat menantikan kesempatan langka ini. (bro2)



