BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan kembali menorehkan prestasi bidang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Pada ajang Indonesia Green Awards (IGA) 2026, perusahaan ini berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi dengan predikat tertinggi.
Penyerahan penghargaan berlangsung dalam acara IGA Awards 2026, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (21/1/2026). IGA Awards menggunakan La Tofi ESG Rating Methodology yang menilai dampak nyata program terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Sejak 2010, ajang ini menjadi barometer nasional praktik keberlanjutan yang terverifikasi.
Pada 2026, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan meraih empat predikat Platinum dari empat kategori melalui empat unit operasional. Kategori Inovasi Sosial dan Rekayasa Teknologi Hijau diraih AFT Supadio Pontianak, AFT Sepinggan Balikpapan, dan AFT Syamsudin Noor Banjarbaru berkat inovasi TJSL yang mendorong efisiensi operasional, teknologi ramah lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Integrated Terminal Balikpapan melalui program Eco Green Schoo meraih penghargaan untuk Kategori Penyelamatan Sumber Daya Air. Program ini mengintegrasikan pemanfaatan PLTS, filtrasi air sumur, dan juga pengelolaan circular food waste.
Selain itu, AFT Supadio kembali meraih penghargaan Best Program Inovasi Sosial dan Rekayasa Teknologi Hijau serta Local Green Hero. Penghargaan ini menegaskan keberhasilan program unggulan dan peran penggerak lokal dalam mendorong perubahan sosial.
Empat unit operasi, yakni Integrated Terminal Balikpapan, AFT Supadio, AFT Syamsudin Noor, dan AFT Sepinggan, juga masuk dalam daftar Best 100 Operation Units/Sites/Suppliers Indonesia 2026 versi La Tofi ESG Rating.
KONSISTEN MENERAPKAN ESG
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, menegaskan capaian ini menjadi penguat komitmen perusahaan dalam menerapkan ESG secara konsisten.
“Penghargaan ini juga lahir dari kolaborasi seluruh perwira dan pemangku kepentingan. Keberlanjutan bukan sekadar kepatuhan, tetapi upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan ketahanan operasi,” ujar Edi.
Founder and Chairman La Tofi School of Social Responsibility, La Tofi, menyebut IGA 2026 sebagai momentum koreksi nasional praktik CSR dan ESG agar lebih menjawab krisis iklim dan risiko kemanusiaan.
“Bencana ekologis adalah ujian tanggung jawab bersama. ESG harus melindungi manusia, memulihkan alam, dan juga menjaga nilai ekonomi,” tegasnya. (bro2)



