BERANDAPOST.COM, SAMARINDA – Ancaman bencana alam dan sosial selalu membayangi Kalimantan Timur (Kaltim). Dari kebakaran permukiman hingga insiden tenggelam, kecepatan respons menjadi penentu keselamatan. Pemprov Kaltim pun memperkuat strategi kesiapsiagaan melalui pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB).
Program ini tidak sekadar menghadirkan relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana). KSB lahir sebagai ruang kolaborasi, tempat warga menjadi subjek utama penanganan bencana sejak menit pertama kejadian.
Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kaltim, Arif Maulana, menilai keberadaan KSB sangat krusial. Ia menegaskan, fase awal bencana kerap menentukan besar kecilnya dampak.
“Dalam penanganan bencana dikenal istilah golden time. Pada fase ini, kecepatan bertindak sangat menentukan keberhasilan evakuasi dan penurunan risiko korban,” ujar Arif, Rabu (28/1/2026).
Lebih dari sekadar respons darurat, KSB juga berfungsi sebagai lumbung logistik warga. Persediaan kebutuhan dasar tersedia langsung pada lokasi terdampak, sehingga korban tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan luar.
“Hadirnya lumbung logistik memastikan kebutuhan dasar korban tetap terpenuhi sebelum bantuan skala besar tiba,” jelasnya.
KALTIM MILIKI 14 KAMPUNG SIAGA BENCANA
Saat ini, Kalimantan Timur telah memiliki 14 KSB yang tersebar pada wilayah strategis, antara lain Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Barat, serta Kutai Kartanegara. Seluruhnya aktif berkontribusi, mulai dari penanganan kebakaran permukiman hingga pencarian korban tenggelam.
Pembentukan KSB tidak menyasar seluruh desa. Pemerintah memprioritaskan wilayah rawan bencana dengan syarat adanya relawan Tagana yang siap bergerak bersama masyarakat.
Relawan Tagana wajib menguasai tiga keterampilan dasar. Kemampuan tersebut meliputi pengelolaan dapur umum, pendirian tenda darurat, serta pemberian dukungan psikososial bagi penyintas.
Pemerintah Provinsi Kaltim terus mengevaluasi kinerja Tagana. Meski bekerja tanpa gaji, dedikasi mereka mendapat apresiasi melalui pemberian tali asih.
“Mereka relawan sejati. Mereka berdiri pada garis terdepan saat musibah datang, memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi,” pungkas Arif.
Dengan penguatan KSB, Pemprov Kaltim berharap setiap warga tak hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga mampu saling menjaga saat krisis datang tanpa aba-aba. (bro2)


