BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Kilau emas kembali memikat perhatian pasar. Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk mencatat lonjakan tajam pada perdagangan Kamis (28/1/2026).
Melansir Bloomberg Technoz, Kamis (29/1/2026), harga emas Antam tercatat Rp 3.168.000 per gram. Angka tersebut melonjak Rp 165.000 dari posisi sebelumnya sekaligus menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa.
Sehari sebelumnya, pembaruan harga terakhir tercatat pada pukul 16.27 WIB. Saat itu, emas Antam menguat Rp 35.000 ke level Rp 3.003.000 per gram. Tren penguatan ini berlanjut tanpa jeda.
Tidak hanya harga jual, nilai pembelian kembali atau buyback juga ikut menanjak. Antam menetapkan harga buyback Rp 2.989.000 per gram. Angka ini naik Rp 135.000 dan kembali mencatat rekor tertinggi.
Lonjakan ini tidak terlepas dari pergerakan emas global. Pada perdagangan pasar spot, harga emas dunia mencapai US$ 5.419,8 per troy ons. Kenaikan 4,61 persen dalam sehari mendorong sentimen positif pasar logam mulia.
KEBIJAKAN MONETER AS JADI SOROTAN
Selanjutnya, pelaku pasar menyoroti dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Ekspektasi berakhirnya masa jabatan Gubernur Bank Sentral AS Jerome ‘Jay’ Powell memicu spekulasi arah kebijakan baru yang lebih longgar.
“Pasar mulai melihat era pasca-Powell. Gubernur berikutnya kemungkinan lebih dovish dan hal ini akan sangat menentukan pergerakan harga emas tahun ini,” ujar Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy TD Securities.
Pada dini hari waktu Indonesia, Federal Open Market Committee memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Meski demikian, sinyal kebijakan jangka panjang tetap menjadi perhatian utama investor.
Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung lebih menarik saat suku bunga rendah. Oleh karena itu, potensi pelonggaran moneter menjadi katalis kuat bagi pergerakan harga.
Ke depan, pasar masih melihat ruang kenaikan. Meski risiko koreksi jangka pendek tetap terbuka, arah tren tetap positif.
“Ekspektasi The Fed yang lebih dovish serta risiko geopolitik akan mendorong peningkatan alokasi emas, terutama dari investor ritel. Dari luar koreksi jangka pendek, potensi kenaikan masih terbuka,” kata Suki Cooper, Global Head of Commodity Research Standard Chartered Plc. (bro2)


