BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Rentetan kecelakaan kapal Pelabuhan Semayang memicu keprihatinan dari pegiat kemanusiaan. Wakil Ketua Info Bencana Kota Balikpapan, Andi Ruslan, menilai insiden tersebut menjadi alarm keras bagi sistem keselamatan pelayaran.
“Kami berbelasungkawa atas kecelakaan KM Dharma Kartika IX. Kami mendoakan seluruh korban,” ujar Andi Ruslan, Kamis (29/1/2026).
Ia juga menegaskan peristiwa kapal miring saat sandar bukan sekadar musibah biasa. Kejadian ini menelan korban luka hingga meninggal dunia dan menunjukkan lemahnya pengawasan keselamatan kapal dan aktivitas pelabuhan.
Menurut Andi Ruslan, duka keluarga korban harus menjadi titik evaluasi. Ia menilai setiap kecelakaan pelayaran menandakan adanya celah prosedur yang perlu segera dibenahi, bukan sekadar disesali.
Ia juga mengingatkan pejuang kemanusiaan agar tetap menjaga semangat melayani masyarakat, meski berhadapan dengan situasi darurat yang terus berulang.
“Relawan harus tetap kuat. Pelayanan kepada rakyat harus lahir dari nurani, meski tekanan psikologis sangat berat,” katanya.
Andi Ruslan bahkan menekankan koordinasi cepat antarinstansi sebagai kunci utama penanganan darurat. Ia menilai keterlambatan respons berpotensi memperbesar jumlah korban.
“Dalam kondisi darurat, koordinasi tidak boleh lambat. Aparat terkait harus bergerak cepat agar pertolongan segera diterima masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan rangkaian tragedi pelabuhan beberapa hari terakhir sangat menguras emosi relawan. Kejadian berulang menunjukkan persoalan keselamatan belum tertangani serius.
“Air mata kami jatuh melihat musibah ini terus terjadi. Kami juga berharap kecelakaan seperti KM Dharma Kartika IX tidak terulang,” tutupnya.
Sebagai catatan, insiden KM Dharma Kartika IX pada 27 Januari 2026 menewaskan tiga penumpang setelah truk dalam geladak kapal bergeser dan menimpa mobil korban. Tim SAR gabungan, TNI AL, Polri, KSOP, Pelindo, serta relawan langsung melakukan evakuasi.
Tragedi kembali terjadi sehari berselang. Seorang ABK KM Madani Nusantara tewas terjepit ekskavator saat kapal sandar Pelabuhan Semayang pada 28 Januari 2026. Rentetan kejadian ini menegaskan urgensi pembenahan serius terhadap standar keselamatan, pengawasan muatan, serta disiplin prosedur pelayaran. (bro2)


