BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Seekor bayi kera Jepang bernama Punch mencuri perhatian dunia setelah video dirinya diseret dan dikejar kera lain viral pekan lalu.
Punch lahir Juli lalu dalam Kebun Binatang Ichikawa, Jepang. Induknya meninggalkan Punch tak lama setelah kera itu lahir.
Tanpa bimbingan induk, Punch kerap terlihat menyendiri sambil memeluk boneka orangutan pemberian penjaga kebun binatang. Video juga memperlihatkan Punch mendapatkan dorongan, hingga kejaran oleh kera yang lebih besar dalam kandang.
Dalam salah satu rekaman, Punch berlari lalu bersembunyi ke balik batu sambil memeluk boneka tersebut. Adegan itu memicu simpati warganet.
Melansir The Guardian, Kamis (26/2/2026), penjaga kebun binatang, Kosuke Shikano, mengatakan tim sempat mencoba alternatif lain sebelum memberikan boneka.
“Kami mencoba menggulung handuk dengan ketebalan berbeda agar ia bisa berpegangan. Namun boneka yang menyerupai monyet lebih membantunya merasa aman,” ujarnya.
Ia menjelaskan bayi kera Jepang biasanya langsung berpegangan pada tubuh induk untuk membangun kekuatan otot dan rasa aman. Karena ditinggalkan, Punch tidak memiliki sosok untuk digenggam.
PENDAPAT AHLI PRIMATOLOGI
Ahli primatologi dari Australian National University, Alison Behie, menilai pengabaian induk memang jarang terjadi, tetapi bisa muncul dalam kondisi tertentu.
“Dalam kasus Punch, induknya merupakan ibu pertama kali. Faktor usia, kesehatan, pengalaman, serta tekanan lingkungan seperti gelombang panas dapat memengaruhi perilaku tersebut,” jelasnya.
Menurut Behie, interaksi agresif dari kera lain bukan bentuk perundungan, melainkan bagian dari dinamika sosial normal.
Kera Jepang memiliki hierarki matrilineal ketat. Anggota keluarga berpangkat tinggi menegaskan dominasi atas yang lebih rendah. Tanpa dukungan induk, Punch berpotensi kesulitan mempelajari respons sosial yang tepat.
Sementara itu, psikolog konservasi dari Adelaide University, Carla Litchfield, menilai viralnya Punch menyoroti isu kesejahteraan satwa, perubahan iklim, serta dampak media sosial terhadap persepsi publik.
“Kita harus berhati-hati agar simpati ini tidak memicu perdagangan ilegal bayi monyet sebagai hewan peliharaan eksotis. Monyet adalah makhluk sosial dan harus hidup bersama spesiesnya,” tegasnya.
Sejak viral, kebun binatang mencatat lonjakan pengunjung. Pengelola menerapkan pembatasan ketat sekitar kandang dan meminta pengunjung menjaga ketenangan. (bro2)


