NASIONAL
Beranda / TOPIK / NASIONAL / Ancaman Virus Nipah India Menguat, Indonesia Waspada

Ancaman Virus Nipah India Menguat, Indonesia Waspada

Virus Nipah kembali mewabah di India dengan tingkat kematian tinggi. Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan karena belum ada vaksin atau obat khusus. (AFP Photo)

BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Virus Nipah kembali muncul dan menyebar di India. Ancaman penyakit mematikan ini mendorong banyak negara memperketat pengawasan pelaku perjalanan dari wilayah terdampak. Indonesia pun mendapat peringatan serius untuk meningkatkan kewaspadaan.

Melansir Kompas, Selasa (27/1/2026), Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, menegaskan virus Nipah memiliki tingkat kematian sangat tinggi. Angkanya berkisar 40 hingga 70 persen, bahkan bisa mencapai 75 persen pada situasi terburuk.

“Dari sepuluh orang yang tertular, tujuh sampai delapan orang berisiko meninggal. Kecepatan respons sangat menentukan,” katanya.

Ancaman tersebut semakin berat karena dunia belum memiliki vaksin maupun obat spesifik untuk mencegah dan mengobati infeksi virus Nipah. Kondisi ini menjadikan setiap kasus berpotensi berkembang cepat dan sulit terkendali.

Laporan The Independent menyebutkan lima kasus terkonfirmasi muncul di Negara Bagian Bengal Barat, India. Hampir seratus orang tercatat memiliki riwayat kontak erat dengan pasien. Dua kasus awal melibatkan perawat rumah sakit swasta Barasat, dekat Kolkata. Tiga kasus lanjutan berasal dari tenaga medis, termasuk seorang dokter.

SE Terbaru Upacara Bendera, Sekolah Wajib Baca Ikrar Pelajar

Ia menilai kemunculan wabah ini bukan kejadian baru. India, khususnya Kerala pernah menghadapi wabah serupa pada 2018. Bangladesh juga mencatat Nipah sebagai penyakit endemik, terutama area perkebunan.

Data Organisasi Kesehatan Dunia mencatat wabah Nipah telah muncul sejak 1998. Sejumlah negara seperti Malaysia, Filipina, Singapura, Bangladesh, dan India pernah melaporkan kasus. Wabah pertama Malaysia mencatat hampir 300 orang terinfeksi dengan lebih dari 100 korban jiwa.

Meski Indonesia belum menemukan kasus, kewaspadaan tetap perlu berjalan ketat. Kelelawar buah sebagai pembawa alami virus Nipah telah hidup luas pada kawasan Asia Tenggara.

“Risiko pandemi memang lebih rendah ketimbang virus airborne. Namun, pencegahan tetap wajib agar kasus tidak masuk dan berkembang lokal,” jelasnya.

VIRUS NIPAH DARI KELELAWAR DAN BABI

Virus Nipah menular melalui kontak manusia dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar buah dan babi. Penularan juga dapat terjadi lewat makanan atau minuman terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran hewan. Kontak erat antar manusia turut memperbesar risiko.

Enam Anjing Andalkan Indra Tajam Cari Korban Longsor Cisarua

Masa inkubasi berkisar 4 hingga 14 hari, bahkan bisa mencapai 45 hari. Pemeriksaan laboratorium mengandalkan metode RT-PCR dan ELISA.

Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Pada fase lanjut, penderita bisa mengalami gangguan kesadaran, gangguan saraf, pneumonia atipikal, hingga ensefalitis dan kejang. Penanganan cepat dapat menyelamatkan pasien, meski risiko gangguan neurologis jangka panjang tetap ada.

Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Aditama, menegaskan pencegahan menjadi satu-satunya langkah efektif saat ini. Belum ada vaksin yang tersedia untuk virus Nipah.

Sejumlah negara telah bertindak. Thailand memberlakukan skrining ketat bagi pelaku perjalanan dari Bengal Barat melalui Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang. Nepal dan Taiwan juga menerapkan langkah serupa. Taiwan bahkan memasukkan Nipah dalam kategori penyakit berisiko tinggi.

Tjandra mendorong Indonesia mengambil langkah sepadan. Arus kunjungan warga India ke Indonesia tergolong tinggi, terutama dari wilayah Kolkata dan Bengal Barat.

Identitas 11 Korban Longsor Cisarua, Pencarian Libatkan Anjing Pelacak

“Perlu memperkuat kewaspadaan. Pemantauan harus berjalan ketat mengikuti perkembangan kasus regional,” ujarnya. (bro2)