LIFESTYLE
Beranda / LIFESTYLE / Virus Nipah: Ancaman Zoonosis dari Hutan hingga Manusia

Virus Nipah: Ancaman Zoonosis dari Hutan hingga Manusia

Virus Nipah berasal dari kelelawar buah dan menular ke manusia. Kenali asal, cara penularan, gejala, dan langkah pencegahannya. (Istimewa)

BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada akhir 1990-an di Malaysia. Saat itu, wabah muncul dari sebuah peternakan babi yang mengalami kematian hewan secara massal. Babi-babi menunjukkan gejala demam tinggi, gangguan pernapasan, hingga kejang.

Selanjutnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah. Hewan ini menularkan virus ke babi, lalu berlanjut ke manusia. Kelelawar berperan sebagai reservoir alami, yakni pembawa virus tanpa mengalami sakit.

Namun, perubahan lingkungan mempercepat rantai penularan. Penebangan hutan memaksa kelelawar kehilangan habitat alami. Akibatnya, mereka mendekat ke pemukiman manusia dan kawasan peternakan. Dari titik inilah virus Nipah berpindah lintas spesies.

CARA PENULARAN VIRUS NIPAH

Virus Nipah termasuk kelompok Paramyxovirus, yaitu virus RNA yang juga mencakup penyebab gondongan, campak, dan pneumonia. Meski satu keluarga, Nipah memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi.

Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan terinfeksi, seperti air liur, darah, atau urine. Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan risiko infeksi melalui konsumsi daging hewan terinfeksi, terutama bila proses memasak tidak sempurna.

Google Photos Bisa Ubah Selfie Jadi Meme AI, Begini Caranya

Lebih berbahaya lagi, virus Nipah juga mampu menular antarmanusia. Penularan ini terjadi melalui kontak dekat dengan pasien, khususnya saat pasien mengeluarkan banyak cairan tubuh, seperti air liur atau lendir pernapasan.

GEJALA INFEKSI VIRUS NIPAH

Setelah virus masuk ke tubuh, masa inkubasi berlangsung sekitar 4 hingga 14 hari. Gejala awal sering menyerupai infeksi umum, tetapi dapat berkembang cepat menjadi kondisi berat.

Gejala yang kerap muncul antara lain demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sesak napas, mual, muntah, serta kesulitan menelan. Pada tahap lanjut, virus dapat memicu peradangan otak atau ensefalitis.

Kondisi ensefalitis menyebabkan kantuk berlebihan, gangguan konsentrasi, disorientasi, hingga perubahan suasana hati drastis. Pada kasus berat, infeksi Virus Nipah dapat berujung pada kematian.

CARA MENCEGAH PENULARAN VIRUS NIPAH

Pencegahan menjadi langkah paling efektif menghadapi ancaman Virus Nipah. Pertama, hindari kontak langsung dengan hewan berisiko, terutama kelelawar dan babi.

Agak Laen: Menyala Pantiku! Dekati Rekor Avengers: Endgame

Selanjutnya, pastikan mencuci bersih sayur dan buah sebelum konsumsi. Hindari makanan yang berpotensi terkontaminasi hewan liar. Saat membersihkan kotoran atau urine hewan, gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung wajah.

Selain itu, biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum serta sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang sakit. Pastikan juga seluruh daging hewan matang sempurna sebelum Anda konsumsi.

Hingga kini, belum ada laporan kasus Virus Nipah masuk Indonesia. Meski demikian, kewaspadaan tetap penting karena virus ini memiliki potensi penularan cepat dan dampak fatal. (bro2)