BERANDAPOST.COM, NUSANTARA – Indosat Ooredoo Hutchison menegaskan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui penanaman pohon asli Kalimantan. Kegiatan berlangsung bersama Otorita IKN pada Rabu (4/2/2026) kemarin.
Sebanyak 85 peserta dari jajaran pimpinan dan karyawan Indosat terlibat langsung. Mereka menanam berbagai jenis tanaman endemik Kalimantan yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.
Program ini menjadi bagian kontribusi nyata perusahaan dalam memperkuat ekosistem hijau Nusantara. Selain itu, langkah tersebut mendukung visi IKN sebagai kota masa depan berbasis konsep kota hutan.
Kawasan Miniatur Hutan Hujan Tropis (MHHT) sebelumnya merupakan hutan tanaman industri eucalyptus. Namun, seiring pengembangan IKN, pengelolaan kawasan berubah dengan pendekatan ekologis.
Tak ada lagi penebangan eucalyptus sekitar Istana Negara. Tanaman itu tumbuh hingga akhir siklus hidupnya. Sementara itu, penanaman vegetasi asli Kalimantan pada lapisan bawah untuk memperkaya keanekaragaman hayati.
Direktur Pengembangan Pemanfaatan Kehutanan dan Sumber Daya Air Otorita IKN, Onesimus Patiung, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak.
“Walaupun berada di tengah hutan, kami berharap semua pihak dapat berpartisipasi dalam kegiatan penanaman ini,” ujar Onesimus.
Mengusung semangat Nusantara Tumbuh Bersama Indosat, kegiatan ini menempatkan alam sebagai fondasi utama pembangunan. Kehadiran ruang hijau agar mampu menurunkan suhu mikro dan menciptakan lingkungan yang lebih sejuk.
Director & Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Bilal Kazmi, menilai kemajuan teknologi harus sejalan dengan kelestarian alam.
“Membangun Nusantara bukan hanya soal menghadirkan konektivitas, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan alam. Kami percaya teknologi yang berdampak adalah teknologi yang ikut menciptakan kota yang lebih hijau, sehat, dan nyaman untuk generasi hari ini dan masa depan,” ungkap Bilal.
Berdasarkan estimasi kegiatan penanaman, pengadaan bibit endemik, logistik, serta pendampingan ekologis, program ini menelan anggaran ratusan juta rupiah. Nilainya berkisar Rp300 juta hingga Rp500 juta sebagai investasi lingkungan jangka panjang. (bro2)


