BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Bank Sampah Induk Kota Hijau memiliki peran strategis dalam membantu Balikpapan untuk menekan timbunan sampah. Bank sampah ini menjadi penggerak pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat selama 13 tahun.
Jumlah penduduk Balikpapan kini mencapai sekitar 760 ribu jiwa. Produksi sampah harian diperkirakan menyentuh 550 ton.
Kondisi tersebut memberi tekanan besar terhadap TPA Manggar. Pemerintah membutuhkan pendekatan pengelolaan yang mendorong perubahan perilaku warga.
Staf Ahli Perekonomian dan Pembangunan Setda Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, menilai bank sampah sebagai solusi konkret.
Ia menyebut Bank Sampah Induk Kota Hijau berkembang menjadi gerakan warga yang berkelanjutan.
“Bank sampah berperan penting karena langsung menyentuh rumah tangga. Masyarakat memilah sampah dari sumbernya,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).
Menurut Neny, langkah tersebut menekan volume sampah yang masuk ke TPA.
Selain bank sampah, pemkot mengandalkan TPST Kariangau dan Kota Hijau. Fasilitas itu mampu mengurangi sampah sekitar 120 ton per hari.
Pemkot juga merencanakan penambahan satu TPST baru. Pembangunan sarana pendukung akan berlangsung mulai tahun anggaran 2027.
Namun, Neny menegaskan fasilitas tidak efektif tanpa keterlibatan aktif masyarakat.
“Bank sampah memberi nilai tambah karena mengubah sampah menjadi sumber ekonomi melalui tabungan dan pengolahan bernilai guna,” jelasnya.
Praktik tersebut mendukung ekonomi sirkular dan memperkuat ketahanan ekonomi warga komunitas.
Pemerintah berharap Bank Sampah Induk Kota Hijau terus berinovasi. Selain itu perlu juga memperluas kemitraan dengan pelaku usaha.
“Kami mengajak masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai kebiasaan harian untuk kota bersih dan berkelanjutan,” pungkasnya. (bro2)



