EKONOMI
Beranda / EKONOMI / IHSG Tertekan 4,88 Persen, Asing Masih Catat Net Buy

IHSG Tertekan 4,88 Persen, Asing Masih Catat Net Buy

IHSG terkoreksi 4,88 persen ke level 7.922,73. Investor asing masih membukukan net buy, BEI dan OJK respons sorotan MSCI. (Ilustrasi)

BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Perdagangan saham awal pekan berjalan penuh dinamika. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi Senin (02/02) dalam tekanan, terkoreksi 4,88 persen dan berhenti pada level 7.922,73. Koreksi tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar yang merespons tekanan global dan domestik secara bersamaan.

Menariknya, pelemahan indeks terjadi saat sejumlah saham berkapitalisasi besar justru bergerak menguat. Saham BBCA mencatat kenaikan 2,70 persen, BBRI bertambah 0,52 persen, sementara ICBP melonjak 5,35 persen dan menjadi salah satu penopang utama pergerakan indeks.

Namun demikian, tekanan kuat datang dari saham-saham tertentu. DSSA merosot 12,42 persen, AMMN melemah 14,80 persen, dan BRMS terkoreksi 14,81 persen. Pelemahan saham-saham tersebut memberi bobot besar terhadap penurunan IHSG secara keseluruhan.

Dalam kondisi tersebut, aktivitas investor asing menunjukkan sinyal berbeda. Investor global masih mencatat pembelian bersih Rp593,35 miliar pada pasar reguler dan mencapai Rp654,94 miliar pada seluruh pasar. Data ini menunjukkan minat asing belum sepenuhnya surut meski indeks bergerak dalam zona merah.

Secara sektoral, tekanan berlangsung merata. Seluruh 11 sektor mencatat pelemahan dengan sektor basic industry mengalami penurunan terdalam sebesar 10,74 persen. Kondisi ini memperlihatkan tekanan yang bersifat luas, bukan hanya terfokus pada sektor tertentu.

Emas Picu Inflasi di Kaltim, Harga Pangan Beri Tekanan

Sementara itu, sorotan Morgan Stanley Capital International mendapat respons serius dari otoritas pasar. Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan menegaskan komitmen untuk menindaklanjuti seluruh isu utama yang menjadi perhatian.

LANGKAH STRATEGIS BEI DAN OJK

Tiga langkah strategis telah disiapkan. Pertama, peningkatan keterbukaan data kepemilikan saham di bawah 5 persen dengan cakupan mulai di atas 1 persen. Kedua, perluasan klasifikasi investor dari sembilan kategori menjadi 27 subtipe guna memperjelas ultimate beneficial owner. Ketiga, rencana peningkatan batas minimum free float dari 7,50 persen menjadi 15,00 persen yang akan berjalan secara bertahap.

Selain itu, OJK memastikan penyampaian perkembangan implementasi akan berlangsung secara berkala. Koordinasi dengan MSCI juga berlanjut pada level teknis, termasuk pembahasan metodologi serta perhitungan indeks.

Dari sisi korporasi, PT Sarana Menara Nusantara Tbk mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp300 miliar. Periode buyback berlangsung sejak 2 Februari hingga 1 Mei mendatang.

Aksi tersebut mengacu pada POJK Nomor 13 Tahun 2023 serta Surat OJK S-102/D.04/2025, sehingga tidak memerlukan persetujuan RUPS. Perseroan berpotensi membeli kembali sekitar 576 juta lembar saham atau setara 0,97 persen dari modal ditempatkan dan disetor, dengan pendanaan berasal dari kas internal.

PLN Perluas Listrik Desa, Rasio Berlistrik Kaltim-Kaltara Naik

Dalam pelaksanaannya, TOWR menunjuk PT BCA Sekuritas sebagai perantara. Jika aksi buyback terealisasi penuh, laba per saham secara proforma bakal meningkat dari 49,10 menjadi 49,65. (bro2)