BERANDAPOST.COM, TEHERAN – Ketegangan kawasan Timur Tengah kembali menguat. Iran memberi sinyal kesiapan penuh mempertahankan negara saat Amerika Serikat terus melontarkan ancaman serangan militer. Namun, di balik sikap tegas itu, Teheran tetap menjaga pintu diplomasi.
Melansir Al-Jazeera, Senin (2/2/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu Turki Hakan Fidan, Istanbul pada pekan lalu. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya regional meredam eskalasi akibat tekanan politik dan militer AS.
Usai pertemuan, Araghchi menegaskan komitmen Iran pada dialog. Menurutnya, diplomasi tetap menjadi jalan utama penyelesaian krisis.
“Kami tidak akan pernah meninggalkan diplomasi,” ujar Araghchi. Ia menekankan proses dialog harus berlandaskan keadilan dan hukum internasional.
Sementara itu, Hakan Fidan menyuarakan kekhawatiran Turki. Ia menilai Israel terus mendorong Washington agar melancarkan serangan militer terhadap Iran.
“Kami melihat upaya Israel membujuk AS untuk menyerang Iran,” kata Fidan. Karena itu, ia berharap AS bertindak rasional dan menahan diri.
Lebih lanjut, Fidan mengingatkan bahwa langkah militer berpotensi mengguncang stabilitas kawasan. Sebagai alternatif, ia mendorong kebangkitan kembali pembicaraan nuklir Iran-AS guna menurunkan tensi.
TRUMP BERI SINYAL KE IRAN
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal terbuka terhadap dialog. Ia mengaku ingin menghindari aksi militer, meski tetap menyampaikan ancaman.
“Saya sudah melakukannya, dan saya merencanakannya,” ujar Trump saat merespons peluang pembicaraan dengan Iran.
Namun, pernyataan itu beriringan dengan pengerahan kekuatan militer AS dekat perairan Iran. Armada tersebut dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln. Media Israel melaporkan kapal perusak USS Delbert D Black telah sandar pelabuhan Eilat.
Sikap keras juga terus muncul dari Teheran. Otoritas politik, militer, dan kehakiman menyampaikan pesan serupa. Fokus utama mengarah pada pertahanan nasional.
“Prioritas kami bukan negosiasi, tetapi kesiapan 200 persen membela negara,” ujar Kazem Gharibabadi, anggota senior tim negosiasi Iran.
Meski begitu, ia mengakui adanya pertukaran pesan tidak langsung dengan AS melalui perantara. Namun, Iran memilih tetap waspada. Pengalaman serangan sebelumnya menjadi pelajaran penting saat diplomasi hampir berlangsung. (bro2)


