BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Kementerian Agama Kota Balikpapan mendorong penyediaan lokasi standar dan permanen untuk pengamatan hilal. Selama ini, tim rukyat masih berpindah tempat setiap tahun.
Kepala Kementerian Agama Kota Balikpapan, Masrivani, menjelaskan lokasi pengamatan sempat berganti-ganti. Mulai Gunung Dubbs, Hotel Platinum, hingga kini memanfaatkan menara Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Center setinggi 90 meter.
“Posisi menara ini memiliki ketinggian yang sangat baik untuk proses pengamatan hilal,” ujar Masrivani, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, rukyat tidak hanya menentukan awal Ramadan dan 1 Syawal. Setiap bulan Hijriah, pengamatan dapat dilakukan untuk mengetahui posisi serta ketinggian hilal pada langit Balikpapan.
Meski demikian, menara BIC belum sepenuhnya memenuhi standar observasi ideal. Kemenag mengusulkan penambahan satu tingkat agar fungsi pengamatan lebih optimal.
“Kami mengusulkan kepada Pemkot dan DPRD agar menambah satu tingkat lagi. Kalau bisa ada semacam laboratorium seperti Observatorium Bosscha untuk Balikpapan,” katanya.
Masrivani menilai fasilitas tersebut berpotensi menjadi pusat edukasi yang memadukan wisata religi dan ilmu pengetahuan. Keberadaan observatorium sederhana dapat menjadi ruang belajar astronomi bagi generasi muda.
“Ini bisa menjadi pembelajaran bagi anak-anak kita untuk mencintai ilmu astronomi,” jelasnya.
Ia berharap usulan tersebut masuk dalam pokok pikiran DPRD agar dapat terealisasi. Menurutnya, Balikpapan sudah memiliki lokasi representatif yang layak dikembangkan sebagai sarana edukasi religi dan sains.
Masrivani menambahkan, peralatan rukyat tergolong sederhana. Faktor utama ialah ketinggian lokasi dan pandangan bebas ke arah ufuk barat tanpa penghalang.
Jika terwujud, Balikpapan bukan hanya memiliki titik rukyat permanen, tetapi juga ruang pembelajaran astronomi yang memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat. (bro2)


