BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Laju pembangunan menjadikan Balikpapan tumbuh sebagai kota jasa dan industri. Gedung, kawasan bisnis, dan permukiman terus bertambah. Namun ruang bagi pertanian makin menyempit.
Pemerintah Kota Balikpapan berupaya menjaga sisa lahan produksi pangan agar tetap hidup. Salah satu strategi utama ialah memaksimalkan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Balikpapan, Sri Wahyuningsih, menyebut luas KP2B Balikpapan mencapai sekitar 98 hektare.
Sebagian lahan sudah siap tanam. Sekitar 40 hektare memiliki pematang sawah yang memadai sehingga petani dapat memanfaatkan area tersebut untuk menanam padi.
Sisa lahan sekitar 58 hektare masih tertutup vegetasi lebat. Area ini pernah menjadi lahan pertanian, namun produktivitasnya menurun. Pemerintah kini menyiapkan proses pemulihan agar sawah kembali menghasilkan.
Pendekatan yang pihaknya pilih bukan membuka sawah baru. Pemerintah lebih fokus memulihkan lahan lama agar kembali produktif.
“Yang kami lakukan bukan mencetak sawah baru, tetapi memulihkan lahan agar kembali menghasilkan,” ujar Sri Wahyuningsih, Minggu (8/3/2026).
Langkah tersebut, lanjutnya, adalah paling realistis bagi kota seperti Balikpapan yang memiliki keterbatasan ruang.
Alih Fungsi Lahan Jadi Tantangan
Di tengah pertumbuhan kota, lahan pertanian menghadapi tekanan besar. Alih fungsi tanah menjadi kawasan permukiman maupun usaha terus terjadi. Akibatnya kemampuan produksi pangan lokal masih sangat terbatas. Sebagian besar kebutuhan pangan warga Balikpapan berasal dari daerah lain.
Sekitar 90 persen kebutuhan pangan masih bergantung pada pasokan luar daerah. Untuk komoditas beras, ketergantungan bahkan mencapai seluruh kebutuhan.
“Hampir seluruh beras masih berasal dari daerah lain,” jelas Sri.
Produksi padi lokal umumnya hanya cukup bagi kebutuhan petani. Sebagian gabah juga terserap oleh Badan Urusan Logistik sebagai cadangan pangan pemerintah.
Petani mendapat kesempatan menjual gabah kepada Bulog dengan harga sekitar Rp6.500 per kilogram. Skema ini memberi kepastian pasar sekaligus menjaga stabilitas harga hasil panen.
Meski menghadapi keterbatasan lahan, pemerintah kota tetap menjaga harapan bagi sektor pertanian. Pembinaan petani, dukungan sarana produksi, serta pemulihan lahan menjadi langkah penting agar sawah tersisa tetap hidup. (bro2/Adv Diskominfo Balikpapan)



