BERANDAPOST.COM, TEHERAN – Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, memicu spekulasi global setelah mengklaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tewas atau mengalami luka parah dalam serangan balasan terbaru. Klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi. Bahkan masih menjadi spekulasi dalam konflik yang terus memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Laporan Tasnim menyebut Netanyahu tidak muncul depan publik selama hampir empat hari. Kondisi itu tidak biasa karena sebelumnya ia rutin menyampaikan pesan video harian.
Sejak saat itu, seluruh pernyataan terkait Netanyahu hanya muncul dalam bentuk tertulis tanpa ada rekaman video atau foto terbaru.
Media Iran juga melaporkan area sekitar kediaman perdana menteri berada dalam pengamanan ketat. Namun hingga kini tidak ada penjelasan resmi dari pemerintah Israel terkait situasi tersebut.
Tasnim bahkan mengklaim Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir serta saudara Netanyahu, Iddo Netanyahu, kemungkinan ikut tewas dalam serangan tersebut. Klaim tersebut juga belum terverifikasi secara independen.
Spekulasi semakin menguat setelah utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner mendadak membatalkan kunjungan ke Israel yang sebelumnya terjadwal pada Selasa (10/3/2026).
Rencana kunjungan itu semula untuk membahas perkembangan perang antara Israel dan Iran. Namun batal tanpa penjelasan dari pihak Washington maupun Tel Aviv.
Sejumlah laporan media Israel menyebut pembatalan tersebut kemungkinan berkaitan dengan perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel mengenai operasi militer terhadap instalasi minyak Iran.
Hingga saat ini, otoritas Israel belum memberikan bantahan resmi terkait klaim dari media Iran tersebut.
Konflik terjadi sejak pada 28 Februari setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini terus meluas.
Pertempuran tersebut melibatkan sejumlah kelompok kawasan Timur Tengah, termasuk Hizbullah pada perbatasan utara Israel serta kelompok Houthi Yaman. Jumlah korban jiwa telah melampaui 2.000 orang dengan ratusan ribu warga mengungsi.
Erdogan Protes Rudal Iran
Sementara itu, dalam eskalasi konflik, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menyampaikan protes keras setelah rudal Iran melintasi wilayah udara Turki. Melansir Anadolu Agency, Kamis (12/3/2026), Erdogan menyampaikan protes tersebut melalui sambungan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
“Pelanggaran terhadap wilayah udara Turki tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun,” ujar Erdogan seperti dikutip Anadolu Agency.
Kementerian Pertahanan Turki sebelumnya menyatakan sistem pertahanan udara NATO berhasil mencegat rudal balistik Iran yang melintasi wilayah udara negara tersebut.
“Rudal balistik dari Iran dan memasuki wilayah udara Turki, lalu dinetralisir oleh sistem pertahanan udara dan rudal NATO di Mediterania,” kata kementerian tersebut.
Insiden ini menjadi yang kedua dalam beberapa hari terakhir setelah pada 4 Maret NATO juga mencegat rudal yang menuju wilayah udara Turki. (bro2)



