BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan mencatat aktivitas kegempaan Pulau Kalimantan dan sekitarnya mengalami peningkatan sepanjang tahun 2025.
Selama periode tersebut, BMKG merekam 240 kejadian gempabumi. Jumlah ini meningkat dua kejadian daripada tahun 2024 yang tercatat sebanyak 238 gempa bumi.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, menyebut peningkatan ini menjadi catatan penting dalam pemantauan aktivitas seismik, meski sebagian besar gempa berkekuatan kecil hingga menengah.
“Secara jumlah memang terjadi kenaikan ketimbang 2024. Namun mayoritas gempa bumi yang tercatat tidak menimbulkan dampak signifikan karena magnitudonya relatif kecil dan berada pada kedalaman tertentu,” ujar Rasmid, Minggu (4/1/2026).
Dari total 240 kejadian, sebanyak 32 gempa bumi dirasakan masyarakat, sedangkan 208 kejadian lainnya tidak terasa. Data tersebut menunjukkan peningkatan frekuensi gempa belum berdampak langsung secara luas.
Berdasarkan kedalaman, BMKG mencatat dominasi gempabumi dangkal dengan 149 kejadian. Selain itu, terdapat 87 gempabumi menengah dan 4 gempabumi dalam. Gempa dangkal umumnya berkaitan dengan aktivitas sesar lokal dan dinamika kerak bumi Kalimantan.
Dari sisi kekuatan, magnitudo terbesar sepanjang 2025 mencapai M 6,3, sementara magnitudo terkecil tercatat M 1,3. Rasmid menilai variasi magnitudo tersebut masih tergolong wajar untuk wilayah Kalimantan.
“Wilayah Kalimantan relatif lebih stabil daripada kawasan cincin api wilayah Indonesia bagian timur dan selatan. Namun aktivitas kegempaan tetap ada dan terus kami pantau secara intensif,” jelasnya.
BMKG IDENTIFIKASI SESAR AKTIF
BMKG mengidentifikasi sejumlah sesar aktif yang berpotensi memicu gempa, terutama Kalimantan bagian timur dan utara. Sesar Mangkalihat menjadi salah satu sesar utama Kalimantan Timur dan pernah dikaitkan dengan gempa berkekuatan besar, termasuk gempa magnitudo 5,6 Berau.
Selain itu, terdapat Sesar Maratua Kalimantan Timur bagian utara, Sesar Paternoster atau Adang wilayah timur Kalimantan, serta Sesar Tarakan Kalimantan Utara.
“Kami terus memantau aktivitasnya,” imbuh Rasmid.
Rasmid menjelaskan distribusi wilayah menunjukkan Kalimantan Timur mencatat jumlah gempa terbanyak dengan 138 kejadian. Kalimantan Utara mencatat 39 kejadian, Kalimantan Selatan 29 kejadian, Kalimantan Barat 6 kejadian, dan Kalimantan Tengah 5 kejadian.
“Selain itu, terdapat 19 kejadian gempa bumi dari wilayah Malaysia serta 4 kejadian dari Sulawesi yang getarannya hingga Kalimantan,” sebutnya.
Sedangkan jika meninjau berdasarkan waktu, frekuensi gempa bumi tertinggi terjadi pada Juni dengan 41 kejadian, Oktober 33 kejadian dan November 28 kejadian. Adapun jumlah terendah tercatat pada Februari dengan 6 kejadian. (bro2)



