BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Ancaman virus Nipah kembali menjadi perhatian kalangan medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus zoonosis yang bersumber alami dari kelelawar buah genus Pteropodidae.
Virus Nipah dapat berpindah ke manusia melalui residu air liur kelelawar yang menempel pada buah, maupun lewat hewan ternak yang terinfeksi. Karena itu, kebiasaan sehari-hari dalam mengolah pangan memegang peranan penting dalam memutus rantai penularan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, menegaskan pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama saat menyiapkan makanan. Ia mengingatkan bahwa kelelawar kerap memakan buah langsung di pohon, lalu meninggalkan jejak air liur.
“Buah selalu cuci bersih. Kalau ada kulitnya, kupas sampai tuntas. Dengan cara itu, risikonya hampir nol,” ujar Dominicus dalam konferensi pers daring, Kamis (29/1/2026).
Selain buah, perhatian juga perlu tertuju pada pengolahan daging. Menurut IDAI, virus Nipah tidak tahan panas sehingga proses memasak hingga matang sempurna menjadi langkah pencegahan yang efektif.
“Kalau memasak daging dengan benar, virus akan mati. Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk Nipah, tetapi juga banyak virus lain,” tambahnya.
Kewaspadaan menjadi krusial karena populasi kelelawar buah tersebar luas. Virus Nipah juga berpotensi menjangkiti hewan yang dekat dengan aktivitas manusia, seperti babi, kuda, kambing, bahkan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.
Melalui kebiasaan sederhana—mencuci dan mengupas buah, serta memasak daging hingga matang—masyarakat dapat menekan risiko penularan virus mematikan ini. Disiplin dalam pengolahan pangan menjadi benteng awal menjaga kesehatan keluarga. (bro2)


