BERANDAPOST.COM, WASHINGTON – Asap ketegangan kembali membubung dari Timur Tengah. Amerika Serikat membaca situasi Iran sebagai ancaman yang kian rumit, sekaligus rapuh. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui, menggulingkan rezim Teheran bukan perkara mudah. Namun justru karena itu, Washington membuka opsi paling keras: serangan preemptif.
Melansir Detikcom, Jumat (30/1/2026), pernyataan Rubio muncul saat gelombang protes mengguncang Iran. Krisis ekonomi, anjloknya nilai rial, dan tekanan hidup mendorong kemarahan rakyat meluap. Otoritas Iran mengklaim korban tewas lebih dari 3.000 orang. Lembaga independen memperkirakan angka jauh lebih besar.
Pada sisi lain, Teheran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang kekacauan. Presiden AS Donald Trump justru menyiram bensin. Ia memberi dukungan terbuka kepada demonstran dan menyebut “bantuan akan datang”, seiring pengerahan tambahan aset militer AS ke kawasan.
Berbicara dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Rubio menyebut postur militer AS perlu tetap “bijaksana dan hati-hati”. Menurutnya, kehadiran militer itu berfungsi ganda: melindungi ribuan prajurit AS sekaligus memberi kemampuan merespons ancaman lebih awal.
“Iran memang lebih lemah dari sebelumnya, tetapi mereka masih memiliki ribuan rudal balistik jarak jauh,” ujar Rubio. Ia menambahkan, perubahan rezim Iran akan jauh lebih kompleks daripada Venezuela.
Isyarat keras juga muncul dari Gedung Putih. Laporan CNN menyebut Trump mempertimbangkan serangan besar terhadap Iran. Opsi yang mengemuka mencakup target pejabat Iran, fasilitas nuklir, hingga lembaga pemerintah. Program nuklir dan rudal balistik tetap menjadi titik api utama dalam kalkulasi Washington.
Meski dialog masih terbuka, AS mengajukan syarat berat. Penghentian permanen pengayaan uranium, pembatasan rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap sekutu regional Iran menjadi prasyarat utama. Teheran menolak dan memperingatkan bahwa AS akan mendapatkan serangan baslan sebagai “perang habis-habisan”.
EROPA IKUT MENEKAN
Tekanan tidak hanya datang dari Washington. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut rezim Iran berada di ujung waktu. Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania, Merz menilai kekuasaan yang bertahan lewat teror tidak memiliki legitimasi.
“Jumlah korban tewas mencapai ribuan. Rezim ini tampaknya hanya bertahan melalui kekerasan,” katanya. Data Human Rights Activists News Agency bahkan memverifikasi lebih dari 6.200 kematian sejak akhir Desember.
Merz juga mendorong Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran sebagai organisasi teroris. Ia menyayangkan masih ada negara anggota UE yang menahan dukungan.
Sementara itu, Trump kembali mengeluarkan ultimatum. Ia meminta Iran segera kembali ke meja perundingan dan menegaskan serangan berikutnya akan jauh lebih buruk ketimbang sebelumnya.
Dalam tekanan global, Iran berdiri pada persimpangan berbahaya. Protes rakyat, ancaman militer, dan isolasi diplomatik kini juga saling bertaut. Dunia menunggu, apakah Teheran memilih jalan dialog, atau sejarah kembali bergerak melalui dentuman senjata. (bro2)



