INTERNASIONAL
Beranda / TOPIK / INTERNASIONAL / Saudi Sebut Iran Kian Berani Jika AS Mundur

Saudi Sebut Iran Kian Berani Jika AS Mundur

Presiden Donald Trump bersama Mohammed bin Salman, yang saat itu menjabat sebagai wakil putra mahkota dan menteri pertahanan Arab Saudi, di Riyadh pada tahun 2017. (Evan Vucci/Arsip AP)

BERANDAPOST.COM, ISTANBUL – Ketegangan kawasan Timur Tengah kembali mengeras. Kali ini, peringatan datang dari lingkaran inti kekuasaan Arab Saudi. Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman menilai Iran akan semakin berani jika Presiden Amerika Serikat Donald Trump gagal menindaklanjuti ancaman tersebut.

Melansir Antara, Minggu (1/2/2026), peringatan itu tersampaikan dalam pengarahan tertutup di Washington, sebagaimana dilaporkan Axios pada Jumat (30/1). Khalid bin Salman merupakan orang kepercayaan Putra Mahkota Mohammed bin Salman atau MBS, sehingga pernyataannya mencerminkan kegelisahan serius Riyadh.

Sikap tersebut menandai perubahan nada publik Arab Saudi. Selama ini kerajaan lebih sering menekankan kehati-hatian dan mengingatkan bahaya eskalasi konflik dengan Iran. Namun situasi terbaru mendorong pesan yang lebih tegas.

Beberapa pekan sebelumnya, MBS justru mendesak Trump agar menghindari aksi militer. Ia khawatir langkah itu memicu konflik regional lebih luas. Desakan tersebut turut memengaruhi keputusan Washington untuk menunda serangan.

Kunjungan Khalid bin Salman berlangsung saat Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya dalam kawasan Teluk. Meski Trump memerintahkan penambahan pasukan secara signifikan, pejabat Gedung Putih menegaskan belum ada keputusan final. Diplomasi masih berada dalam opsi.

Kongres Buntu, Pemerintah AS Alami Shutdown Sementara

KHALID BERTEMU PEJABAT SENIOR AS

Axios menyebut belum ada perundingan langsung yang serius antara Washington dan Teheran. Pejabat AS menilai Iran belum menunjukkan kesediaan memenuhi tuntutan Amerika Serikat.

Dalam lawatannya, Khalid bin Salman bertemu sejumlah pejabat senior AS, antara lain Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine. Pembahasan berfokus pada kemungkinan serangan terhadap Iran.

Namun, sejumlah sumber menyebut Khalid bin Salman meninggalkan pertemuan tersebut tanpa kejelasan arah kebijakan pemerintahan Trump. Ketidakpastian itu memperbesar kekhawatiran Riyadh.

Dalam pengarahan tertutup lain bersama pakar dan perwakilan organisasi Yahudi, Menhan Saudi menegaskan kegagalan bertindak setelah ancaman berulang akan memperkuat posisi Iran. Menurutnya, sikap ragu justru membuka ruang keberanian baru bagi Teheran.

Meski demikian, ia juga mengakui perlunya pengelolaan risiko eskalasi kawasan. Secara terbuka, Arab Saudi tetap menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan Iran serta preferensi pada jalur diplomatik. Riyadh juga memastikan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk menyerang Iran.

AS Peringatkan Iran, Ketegangan Memanas di Selat Hormuz

Situasi ini menempatkan Arab Saudi pada posisi sulit. Kerajaan khawatir dampak serangan militer Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama tak ingin melihat Iran semakin kuat akibat ancaman yang tak pernah terwujud. (bro2)