BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) meningkat pada Februari 2026.
Balikpapan mencatat inflasi 0,75 persen (mtm), sementara PPU sebesar 0,89 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Balikpapan mencapai 4,14 persen (yoy) dan PPU 4,13 persen (yoy).
“Peningkatan terjadi sejalan dengan naiknya permintaan dan mobilitas masyarakat menjelang Ramadan dan HBKN Idulfitri, serta tingginya frekuensi hujan yang memengaruhi produksi hortikultura,” ujar Kepala KPw Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, Rabu (4/3/2026).
Inflasi tahunan kedua daerah lebih rendah daripada gabungan empat kota Provinsi Kaltim sebesar 4,64 persen (yoy) dan nasional 4,76 persen (yoy). Namun angka tersebut masih melebihi sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Robi menjelaskan, faktor base effect turut memengaruhi inflasi tahunan. Pada Januari-Februari 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik 50 persen sehingga basis perbandingan menjadi rendah.
PENYUMBANG UTAMA INFLASI
Untuk Balikpapan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,27 persen (mtm). Lima komoditas utama pendorong inflasi yaitu angkutan udara, emas perhiasan, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, dan kangkung.
Kenaikan tarif angkutan udara karena meningkatnya mobilitas menjelang Ramadan. Harga emas naik mengikuti tren global. Selanjutnya cabai rawit terdorong kurangnya pasokan dari Jawa dan Sulawesi akibat hujan tinggi.
Sementara itu, deflasi terbesar Balikpapan berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil minus 0,04 persen (mtm). Komoditas penyumbang deflasi antara lain bensin, bawang merah, daging ayam ras, sawi hijau, dan baju muslim anak.
Penurunan harga bensin mengikuti kebijakan Kementerian ESDM yang menurunkan harga Pertamax Rp550 per liter sejak 1 Februari 2026.
Sedangkan PPU, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi 0,68 persen (mtm). Komoditas utama pendorong inflasi yakni ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan buncis.
Sementara deflasi terbesar PPU berasal dari kelompok transportasi dengan andil minus 0,05 persen (mtm). Komoditas penyumbang deflasi antara lain bawang merah, ikan tongkol, bensin, cumi-cumi, dan bayam.
BANK INDONESIA CERMATI RISIKO INFLASI
Ke depan, Bank Indonesia mencermati risiko inflasi dari puncak musim hujan, potensi gelombang laut tinggi, serta risiko banjir pada daerah sentra produksi. Kondisi itu berpotensi mengganggu pasokan hortikultura dan perikanan.
Selanjutnya, hasil Survei Konsumen BI Balikpapan pada Februari 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 131,8, lebih tinggi dari Januari 122,7. Nilai itu menandakan konsumen tetap optimis.
“Kami akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui TPID untuk menjaga inflasi tetap terkendali,” tegas Robi.
BI bersama TPID Balikpapan, PPU, dan Paser akan memperkuat operasi pasar, monitoring harga, kerja sama antar daerah, serta komunikasi publik. Upaya itu berjalan melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga inflasi tetap dalam sasaran nasional 2026. (bro2)



