BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menimbulkan kerugian nyata. Selain biaya besar, sejumlah alutsista udara dilaporkan hilang atau rusak berat selama operasi.
Konflik yang berlangsung 28 Februari 2026 kini memasuki minggu keenam. Dalam periode itu, tekanan tidak hanya datang dari sisi geopolitik, tetapi juga kerugian militer.
Melansir CNBC Indonesia, Minggu (5/4/2026), sejumlah laporan menyebut beberapa pesawat tempur AS hingga pesawat pendukung mengalami insiden, mulai dari salah tembak hingga serangan langsung.
F-15E Strike Eagle
Salah satu kerugian terbesar terjadi pada F-15E Strike Eagle. Empat unit tercatat jatuh.
Tiga unit lebih dulu jatuh di Kuwait pada 2 Maret akibat salah tembak pertahanan udara sekutu. Meski awak selamat, kehilangan tiga jet sekaligus menjadi pukulan besar.
Insiden lain terjadi 3 April 2026. Satu unit F-15E tertembak jatuh dalam wilayah udara Iran. Dari dua awak, satu selamat, sementara satu sempat hilang dan memicu operasi pencarian.
A-10 Thunderbolt II
Selain itu, satu unit A-10 Thunderbolt II juga jatuh setelah terkena tembakan. Pilot berhasil menyelamatkan diri, tetapi pesawat mengalami rusak berat.
KC-135 Stratotanker
Kerugian juga menimpa pesawat tanker KC-135 Stratotanker. Satu unit jatuh dalam Irak pada 12 Maret 2026. Seluruh personel dalam pesawat tersebut tewas.
Insiden itu akibat tabrakan udara, bukan serangan musuh. Namun dampaknya tetap besar karena peran tanker sangat vital dalam operasi tempur.
Pesawat Radar E-3 Sentry
Tak hanya itu, pesawat radar E-3 Sentry juga mengalami kerusakan berat akibat serangan yang terhadap pangkalan Arab Saudi.
Pesawat ini berfungsi sebagai pusat komando udara. Kerusakan pada unit tersebut berdampak langsung pada kemampuan pengawasan dan koordinasi operasi militer.
UH-60 Black Hawk
Dalam misi penyelamatan awak F-15E, dua helikopter UH-60 Black Hawk juga terkena tembakan. Keduanya berhasil keluar dari wilayah konflik, meski mengalami kerusakan.
Rangkaian insiden ini menunjukkan bahwa operasi militer semakin kompleks. Risiko tidak hanya muncul saat pertempuran, tetapi juga saat evakuasi.
Dalam eskalasi konflik, kerugian alutsista ini menjadi indikator bahwa tekanan terhadap militer AS terus meningkat selama perang berlangsung. (bro2)


