Mengapa Rumah Sakit Indonesia Membutuhkan Budaya Mutu yang Berkelanjutan?
Oleh : Andyka Kawa, SKM., M.Kes., CWCCA., C.IQA
Ketika Akreditasi Menjadi Tujuan, Bukan Budaya
Setiap beberapa tahun sekali, suasana di banyak rumah sakit di Indonesia berubah drastis. Dokumen disusun hingga larut malam, berbagai Standar Operasional Prosedur (SPO) diperbarui, indikator mutu dipantau lebih ketat, simulasi telusur dilakukan hampir setiap hari, dan seluruh tenaga kesehatan bekerja ekstra keras menghadapi survei akreditasi.
Fenomena tersebut sebenarnya menunjukkan satu hal yang positif, yaitu adanya kesadaran bahwa mutu pelayanan merupakan aspek yang tidak dapat ditawar dalam pelayanan kesehatan.
Namun di balik keberhasilan memperoleh predikat akreditasi, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apakah budaya mutu tetap hidup setelah surveior meninggalkan rumah sakit? Inilah persoalan mendasar yang selama ini jarang dibahas.
Tidak sedikit rumah sakit mengalami penurunan kepatuhan terhadap standar beberapa bulan setelah akreditasi selesai. Aktivitas audit internal mulai berkurang, rapat mutu tidak lagi rutin, pelaporan insiden keselamatan pasien menurun, bahkan dokumen yang sebelumnya diperbarui secara berkala kembali tidak terkelola dengan baik.
Fenomena tersebut dikenal dalam literatur sebagai quality regression atau accreditation fatigue, yaitu kondisi ketika semangat peningkatan mutu hanya muncul menjelang akreditasi, tetapi tidak mampu dipertahankan sebagai budaya organisasi.
Akreditasi Seharusnya Menjadi Awal, Bukan Akhir
Akreditasi sesungguhnya bukanlah tujuan akhir pelayanan kesehatan. Akreditasi merupakan alat untuk memastikan bahwa rumah sakit memiliki sistem yang mampu memberikan pelayanan yang aman, efektif, efisien, berpusat pada pasien, dan berkelanjutan.
Rumah sakit yang benar-benar bermutu bukanlah rumah sakit yang hanya berhasil memperoleh sertifikat akreditasi, melainkan rumah sakit yang tetap menjaga kualitas pelayanan setiap hari, bahkan ketika tidak sedang menghadapi survei.
Karena itu, paradigma akreditasi perlu bergeser dari sekadar memenuhi dokumen menuju membangun sistem tata kelola mutu (quality governance) yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Kepemimpinan Menentukan Keberhasilan Mutu
Banyak penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi mutu tidak hanya bergantung pada standar yang ditetapkan, tetapi juga pada bagaimana pimpinan mampu menggerakkan seluruh organisasi.
Pemimpin rumah sakit tidak cukup hanya memastikan seluruh dokumen tersedia. Lebih dari itu, pemimpin harus mampu menanamkan keyakinan bahwa mutu adalah bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Kepemimpinan transformasional menjadi salah satu faktor penting karena mampu membangun visi bersama, meningkatkan motivasi tenaga kesehatan, memperkuat kolaborasi lintas profesi, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran organisasi.
Ketika pimpinan menjadikan mutu sebagai budaya, maka seluruh organisasi akan bergerak ke arah yang sama.
Budaya Mutu Tidak Dapat Dibentuk dengan Dokumen
Banyak rumah sakit memiliki ribuan halaman dokumen akreditasi. Namun budaya mutu tidak pernah lahir dari dokumen.
Budaya mutu tumbuh ketika setiap tenaga kesehatan memiliki kesadaran bahwa keselamatan pasien adalah tanggung jawab bersama. Budaya mutu terlihat ketika tenaga kesehatan berani melaporkan insiden tanpa rasa takut disalahkan.
Budaya mutu tampak ketika audit dilakukan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai sarana belajar bersama. Budaya mutu juga tercermin ketika pimpinan menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar memenuhi laporan administrasi.
Dengan kata lain, budaya mutu adalah perilaku organisasi, bukan tumpukan dokumen.
Saatnya Indonesia Memiliki Model Keberlanjutan Akreditasi
Transformasi sistem kesehatan Indonesia membutuhkan pendekatan baru dalam mengelola mutu rumah sakit. Selama ini, keberhasilan akreditasi sering diukur berdasarkan status kelulusan dan kepatuhan terhadap standar. Pendekatan tersebut penting, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa mutu pelayanan benar-benar berkelanjutan.
Karena itu, diperlukan suatu model yang tidak hanya menilai keberhasilan memperoleh akreditasi, tetapi juga mengukur kemampuan rumah sakit mempertahankan budaya mutu setelah akreditasi selesai.
Gagasan inilah yang melatarbelakangi pengembangan Integrated Accreditation Sustainability Model (IASM), sebuah model konseptual yang mengintegrasikan governance akreditasi, kepemimpinan transformasional, budaya mutu, dan kinerja rumah sakit dalam satu kerangka yang utuh. Model ini diharapkan menjadi landasan ilmiah untuk memperkuat keberlanjutan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
Mutu Adalah Perjalanan Panjang
Pelayanan kesehatan merupakan sektor yang tidak pernah berhenti belajar. Mutu bukanlah proyek yang selesai ketika sertifikat akreditasi diterima.
Mutu adalah perjalanan panjang yang harus dipelihara setiap hari melalui kepemimpinan yang visioner, budaya organisasi yang kuat, serta komitmen seluruh tenaga kesehatan.
Rumah sakit yang mampu mempertahankan budaya mutu akan lebih siap menghadapi perubahan, lebih adaptif terhadap tantangan pelayanan kesehatan, serta lebih dipercaya oleh masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah rumah sakit bukan diukur dari berapa banyak sertifikat yang dimiliki, melainkan dari seberapa konsisten rumah sakit tersebut memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berpusat pada pasien setiap saat. (*)
Tentang Penulis
Andyka Kawa, SKM., M.Kes., CWCCA., C.IQA adalah Praktisi Manajemen Rumah Sakit, Surveyor Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Dosen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Ketua Akreditasi Rumah Sakit, serta Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat.

