Oleh: Andi Amirul Tarninda BP (Pemerhati Pembangunan Berkelanjutan)
“Keterbatasan geografis karena tidak memiliki sungai besar bukanlah kutukan, melainkan tantangan yang harus dijawab melalui kepemimpinan yang visioner dan solidaritas seluruh elemen masyarakat.”
Ada yang berbeda pada pelaksanaan salat Hari Raya Iduladha 1447 H di Balikpapan Islamic Center kemarin. Di hadapan ribuan jemaah, Wali Kota Balikpapan tidak hanya menyampaikan pesan takwa penuh hikmat, tetapi juga memberikan peringatan dini yang transparan, jujur dan apa adanya.
Beliau membangun Edukasi Publik secara blak-blakan meminta warga bersiap menghadapi ancaman El Niño, melakukan penghematan penggunaan air, menghindari terpaan cuaca panas yang tinggi serta super waspada terhadap ancaman kebakaran lahan akibat kekeringan ekstrem.
Seruan dari Mimbar Iduladha: Alarm Bagi Warga Kota Beriman
Edukasi Publik langsung dari atas mimbar merupakan nasehat menyikapi realita. Air bersih adalah urat nadi kehidupan.
Namun bagi kita yang tinggal di Balikpapan sebagai kota industri yang kini memikul beban berat penyangga utama Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, menikmati air bersih mengalir di rumah sudah menjadi barang mewah yang kian pelik. Kita sedang berada dalam bayang-bayang krisis air.
Situasi kritis ini tidak bisa lagi diselesaikan dengan retorika, melainkan butuh mitigasi taktis dan kerja keroyokan dari seluruh elemen kota. Secara geografis, memang Kota Balikpapan menyimpan sebuah paradoks yang ironis. Sebagai kota industri modern, Kota tidak memiliki satu pun sungai besar alami.
Kontur tanah kita berbukit-bukit, dan selama ini pasokan air bersih warga murni bergantung pada dua mangkuk tadah hujan saja: Waduk Manggar dan Waduk Teritip, dengan kapasitas tentu terbatas.
Guncangan Infrastruktur Kawasan Urban
Akibat populasi yang meningkat kebutuhan air kota diperkirakan mencapai ± 2.500 liter per detik, sementara kemampuan produksi air bersih PTMB (PDAM) serta bantuan suplai dari Bendungan Sepaku Semoi maksimal hanya menyentuh ± 1.900 liter per detik. Masih terdapat defisit sekitar 600 liter per detik setiap hari.


Jika El Niño yang diprediksi terulang kembali tahun ini seperti yang terjadi di tahun 2023 dan 2024 dan kemudian langit pun seakan lupa membasahi kota maka kapasitas produksi air bersih diperkirakan langsung anjlok sekitar 25 persen akibat kekeringan
Berbagi Bakteri di Sumur Gali: Dampak Kesehatan Lingkungan
Bagaimanapun air adalah barang primer. Akibat celah defisit yang signifikan tersebut, warga terpaksa memutar otak demi bertahan hidup, memenuhi kebutuhan air (baik air bersih maupun untuk air non-konsumsi).
Kebutuhan air warga terpenuhi beragam antara lain dari pipa PTMB (PDAM), WTP Pengembang Perumahan, Sumur Resapan, Sumur Bor tadah hujan mandiri. Namun tak pelak tampak pula pemandangan harian dihiasi oleh antrean mobil pick-up yang mengangkut tandon air perorangan, warga kadang terpaksa membeli air tangki swasta dengan harga yang relatif cukup berat bagi sebagian masyarakat, hingga kepasrahan tetap menggunakan alternatif sumur bor atau sumur gali.
Sayangnya, jalan pintas ini membawa dampak baru yang dapat mengancam kesehatan:
- Ancaman Bakteri E. Coli terutama di kawasan pemukiman yang padat, jarak antara sumur gali dan tangki septik (septic tank) sering kali terlalu dekat. Tidak memenuhi persyaratan standar kesehatan. Rembesan limbah domestik dapat mencemari air bawah tanah. Jika dikonsumsi tanpa filtrasi yang tepat, taruhannya adalah wabah diare kronis, muntaber, hingga tipes yang seringkali mengintai kelompok rentak seperti anak-anak dan lansia.
- Beban Ekonomi tercermin dari dompet warga yang kian menipis hanya untuk membeli air bersih eceran demi kebutuhan harian.
- Lumpuhnya UMKM yang bergantung pada air bersih, mungkin terpaksa merugi atau bisa saja berhenti beroperasi.
- Gesekan Sosial dapat muncul dari situasi antrean air yang panjang, rebutan pengambilan air dan distribusi yang tidak merata mulai dan terbatas dapat memicu konflik dan ketegangan antar-tetangga.
Tidak Ada Kata Terlambat: Tekad Bersama
Dari titik ini maka sudah harus ditimbulkan kesadaran bersama, duduk bersama menemukan solusi ketahanan air kota. Meskipun kritik dapat dilayangkan kepada pengelola kota dan mungkin juga pemangku kebijakan, namun alangkah bijak bila semua dapat memberikan sumbangsih dan partisipasi membangun kota.
Sahdan, sudah bertahun-tahun Balikpapan diproyeksikan menjadi beranda terdepan sekaligus penyangga utama IKN Nusantara dan ada pula rencana pembangunan beberapa proyek skala nasional dimana diprediksi akan terjadi lonjakan ribuan pendatang baru, bukanlah kejutan simsalabim yang datang tiba-tiba melainkan agenda yang sudah direncanakan dan tentu harus diantisipasi sejak lama.
Sederet pertanyaan, mengapa infrastruktur air baru dipersiapkan? Mengapa kajian teknologi desalinasi air laut sebagai alternatif sumber ari baku muncul setelah warga menjerit dalam antrean jeriken?
Mungkin memang sempat terlena dengan status “Kota Beriman” yang bersih dan nyaman, hingga lupa memperkuat fondasi paling mendasar yakni penguatan kedaulatan dan ketahanan air kota. Pesan Edukasi Walikota tidak boleh hanya menjadi tameng pembenaran atas kondisi kekinian. Ataupun masih mengandalkan doa meminta hujan, sejurus nampaknya Pemkot mengambil langkah sigap berbenah menyusun peta jalan infrastruktur kota urban yang terintegrasi.
Saatnya Sekarang: Dari Pemanenan Hujan hingga Desalinasi Air Laut
Peringatan dari Wali Kota harus menjadi pelecut untuk mengeksekusi setiap pilihan solusi secara bersama secara nyata sejak sekarang, baik dari skala rumah tangga hingga kebijakan besar pemerintah.
Di level terdepan sudah harus mengubah pola pikir warga. Sudah saatnya warga bergerak mandiri membangun sistem pemanenan air hujan mandiri. Air hujan yang ditampung dan disaring secara sederhana jangan dibuang percuma karena dapat gunakan untuk kebutuhan non-konsumsi seperti mencuci, menyiram toilet, dan membersihkan kendaraan guna menghemat penggunaan air bersih.
Sedangkan di level kebijakan, Pemkot Balikpapan bersama badan otoritas pengelola air bersih kota (PTMB) harus komit melangkah ke solusi konkret jangka menengah dan panjang, yaitu dapat memanfaatkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau mengubah air laut menjadi air tawar.
Memang sudah ada proyek percontohan dengan rencana awal 120 liter per detik namun harus dipastikan proyek tetap berjalan sesuai spesifikasi teknis dan rencana waktu penyelesaian. Rencana pengadaan fasilitas SWRO di tiap kecamatan pun sudah harus dipersiapkan sejak sekarang demi pemenuhan kebutuhan warga.
Langkah teknis ini juga wajib dipayungi oleh tiga regulasi lokal (Perda) dengan prioritas tinggi:
- Perda CSR Air dimana Korporasi besar wajib mengerahkan armada tangki air untuk membantu menyuplai pemukiman warga secara gratis saat kondisi darurat kekeringan.
- Perda Regulasi Air Tanah pemberian ijin penggunaan air tanah yang selektif, menetapkan batas ruang gerak sumur bor komersial secara ketat agar tanah Kota Balikpapan tidak ambles, sekaligus memberikan insentif bagi industri yang mau swakelola instalasi SWRO dan atau aktif mwmwlihara lingkungan sekaligus membantu warga lain yang membutuhkan air.
- Perda Kerja Sama Lintas Daerah diharapkan Pemerintah dapat membangun komitmen kolaborasi suplai air baku jangka panjang dari daerah tetangga, baik dari Penajam Paser Utara (PPU) melalui Sungai Wain dan Sepaku, maupun menjajaki potensi dari wilayah Samboja atau area terdekat lainnya dengan jalan membangun instlasi yang terintegrasi
Mengetuk Pintu Kolaborasi Pentahelix: Bergerak Bersama
Motto kota sudah sangat jelas: “Kubangun, Kujaga, Kubela Kota Beriman”. Kalimat ini bukan hiasan dinding gapura. Menyelesaikan krisis air Balikpapan adalah tanggung jawab kolektif melalui kerja sama Pentahelix, dalam kondisi darurat semua harus bergerak bersama:
- Pemerintah, harus dapat bergerak cepat bersama PTMB (PDAM) menyelesaikan pipanisasi baik yang baru maupun peremajaan, memperketat aturan kewajiban tandon penampung air hujan bagi pengembang perumahan komersial, menjaga ketat hutan tangkapan air kita, dan segera mengaktifkan Posko Air Kota Terpadu sebagai pusat aduan darurat warga. Pengawasan RTH yang terpadu dan terukur, ketat menjaga batasan luasan taman kota yang dipersyaratkan. Rutin mengadakan pengecekan dan pemeliharaan terhadapa setiap perubahan dasar waduk
- Pelaku Usaha/Swasta membiasakan aktif memelihara lingkungan dan berbagi kebaikan. Di saat kondisi darurat, membuka akses fasilitas sumur dalam atau SWRO milik perusahaan sebagai filling station (tempat pengisian air) gratis bagi warga sekitar yang kekeringan. Mempertahankan batas ruang hijau yang dipersyaratkan, tidak menambah betonisasi lahan. Membantu program penghijauan.
- Akademisi mengadakan riset, kajian yang akan menjadi masukan bagi pemangku kepentingan luas, misal membuat pemetaan kualitas dan kuantitas air tanah, menciptakan inovasi alat penjernih air sederhana yang aplikatif, murah dan terjangkau oleh masyarakat awam.
- Warga Masyarakat membiasakan untuk tidak boros. Mulai membudayakan hemat air, buat lubang biopori di pekarangan, tanam pohon pengikat air, dan aktif memanen air hujan di rumah masing-masing. Bagi yang berkelebihan stok dapat berbagi kepada tetangga. Memberiakna informasi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lain bila terdapat kejanggalan di lapangan.
- Media Massa tetap terus mengkampanyekan gerakan kesadaran lingkungan, hemat air, mendukung program edukasi public pemerintah, mengajak kesadaran warga yang mungkin masih apatis, dan menyampaikan informasi peringatan cuaca dari BMKG secara berkala agar masyarakat tidak lengah dan bisa mengantisipasi.
Refleksi Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2026
Bagi masyarakat Balikpapan, momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak boleh sekadar dirayakan dengan seremoni penanaman pohon simbolis atau pidato lingkungan saja. Hari ini harus menjadi cermin polos yang memberikan pantulan wajah kota yang sesungguhnya: sebuah kota metropolis baru yang megah dan berkilau di permukaan, namun sedang berjibaku mengejar impian ketahanan air kota.
Krisis air di tengah ancaman El Niño merupakan ujian kepedulian terbesar bagi kita semua. Keterbatasan geografis tanpa sungai besar bukanlah kutukan mati, melainkan ujian bagi ketangguhan kepemimpinan pemerintah dan solidaritas warganya.
Jika hari ini kita masih memilih abai, membiarkan ego sektor berjalan sendiri-sendiri, dan kemudian menunda komitmen nyata kolaborasi Pentahelix, maka esok hari kita harus bersiap mengubur mimpi Balikpapan sebagai kota layak huni.
Pada momentum Hari Lingkungan Hidup ini, mari kita buktikan bahwa “Kubangun, Kujaga, Kubela Kota Beriman” bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan janji suci untuk mengalirkan hak dasar air bersih kehidupan bagi masa sekarang dan masa depan. (*)

