Oleh: Andi Amirul Tarninda BP
(Pemerhati Pembangunan Berkelanjutan)
Letak strategis Kota Balikpapan memainkan multiperan yang sangat penting, baik secara administratif maupun geografis. Kota yang bertumbuh pesat dengan jargon filosofis “Kota Madinatul Iman: Kubangun, Kujaga, Kubela” memikul sebuah keniscayaan pembangunan yang membutuhkan dukungan penuh dari seluruh sektor, termasuk benteng alam yang tidak boleh terlupakan.
Balikpapan kini tengah berbenah mengantisipasi persimpangan arus lalu lintas. Yang berpotensi memicu kesemrawutan ruang apabila tidak terkelola dengan bijak. Sebagai garda terdepan, penyangga, sekaligus pintu gerbang utama Ibu Kota Nusantara (IKN), kota ini harus bisa menampung arus keluar masuk logistik dan mobilisasi manusia yang bergerak sangat signifikan.
Baik melalui penyeberangan Teluk Balikpapan maupun melalui transportasi darat dan udara. Secara bersamaan, Balikpapan dituntut dapat memenuhi harapan hidup layak bagi populasi warga yang terus berkembang.
Sebagai ruang hidup urban, dinamika ini melahirkan pertumbuhan penting melalui ekspansi ekonomi, pembangunan fisik dan penguatan infrastruktur.
Menyeimbangkan Ambisi Ekonomi dan Kelestarian Alam

Berbatasan langsung dengan Selat Makassar dan Teluk Balikpapan, menempatkan Kota Balikpapan sebagai simpul pertumbuhan industri maritim yang strategis di Kalimantan Timur.
Peran tersebut tentu tidak mudah. Perlahan tapi pasti, Balikpapan telah mengukuhkan posisinya sebagai jantung roda perekonomian dan penyokong utama pembangunan wilayah Kalimantan.
Kondisi yang terjadi memaksa kota ini untuk memikul beban ganda. Yaitu harus sukses memacu roda ekonomi modern yang beriringan dengan denyut nadi pembangunan daerah, sementara di sisi lain wajib menjaga kelestarian lingkungan pesisir kota yang kian rapuh.
Di tengah pusaran ambisi mengejar target pertumbuhan dan menjaga kestabilan anggaran, maka perhatian terhadap ekosistem hutan mangrove tidak boleh diabaikan.
Mangrove harus diposisikan sebagai aktor sentral yang menentukan masa depan ekologis kota, sekaligus faktor kunci dalam menyeimbangkan kebutuhan ekonomi, sosial dan lingkungan.
Jika salah langkah, ambisi untuk ber-transformasi menjadi kota berkelanjutan penopang IKN justru akan berbalik arah menjadi bencana ekologi jangka panjang. (bersambung)
*Disclaimer:
“Pandangan dalam opini ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan resmi dari BerandaPost.com. Kami menyediakan ruang bagi berbagai perspektif untuk berdiskusi dan berbagi pandangan dalam berbagai topik. Penulis bertanggung jawab penuh atas isi tulisannya.”

