Oleh: Andi Amirul Tarninda BP
(Pemerhati Pembangunan Berkelanjutan)
“Penyusutan sekitar 790 hektare atau 30,8 persen ini mengindikasikan bahwa sepertiga kawasan mangrove telah beralih fungsi.”
Balikpapan kini tepat berada di persimpangan jalan. Desakan pembangunan fisik dan infrastruktur menyokong IKN begitu kuat. Sementara Teluk Balikpapan yang kaya akan flora dan fauna menuntut komitmen perlindungan yang tinggi.
Mengembalikan kondisi awal teluk secara utuh memang mustahil dan hanya akan menguras energy, Tetapi meratapi pembangunan yang masif juga tidak akan menyelesaikan masalah. Solusi satu-satunya adalah memikirkan keseimbangan aspek pembangunan, ekonomi, sosial dan alam secara simultan.
Kondisi ekosistem Teluk Balikpapan saat ini berada dalam titik nadir. Akibat kehilangan sekitar 30,8 persen kawasan mangrove. Dampak dari perubahan fungsi lahan untuk ekspansi Kawasan Industri Kariangau (KIK), zona komersial, tambak lokal dan aktivitas ekowisata.
Tekanan ini diproyeksikan akan melonjak drastis seiring status Balikpapan sebagai pintu gerbang utama IKN. Yang memicu ledakan pusat industri baru, akselerasi pertumbuhan ekonomi kawasan, tren urban living, hingga lonjakan populasi migran.

Jika pertumbuhan ini tidak diantisipasi dan hanya berfokus pada pembangunan fisik tanpa perluasan fasilitas kota yang memadai, Balikpapan akan menghadapi krisis multidimensi: kekumuhan urban, kemacetan, ketimpangan ekonomi, kesenjangan, gejolak sosial, kriminal dan bencana ekologis.
Lebih jauh. Jika ekspansi kawasan industri dan infrastruktur penunjang IKN mengabaikan Rencana Tata Ruang Wilayah dan dokumen AMDAL kawasan berupa Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), dampaknya akan sangat fatal.
Balikpapan hanya akan sekadar membangun secara fisik saja bila abai terhadap aspek sosial-lingkungan. Yang akan memicu kerusakan permanen pada benteng alam Teluk Balikpapan dan melahirkan konflik agraria dengan masyarakat lokal.
Bagi sebagian orang, mangrove mungkin hanya terlihat seperti semak belukar yang tumbuh di atas lumpur pesisir yang becek, pekat dan berbau. Pernah suatu ketika penulis mewakili perusahaan melakukan seremoni penanaman pohon bersama. Dari kegiatan ini, penulis melihat langsung kalau hutan mangrove ternyata tanaman unik super-ecosystem.
Hakikatnya merupakan sabuk karbon biru yang bekerja dalam diam dan senyap. Sebagai bagian paru-paru dunia, memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon udara hingga 5 kali lipat lebih tinggi per hektar daripada hutan daratan pada umumnya.
Tampak akar yang kokoh mencuat ke permukaan. Yang berfungsi sebagai benteng alami menahan proses abrasi. Meredam hantaman tsunami, mencegah banjir rob atau bencana tak terduga lainnya.
Menyelamatkan Ekosistem dari Gejolak Sosial
Kawasan pesisir Teluk Balikpapan, mulai dari Mangrove Center Graha Indah hingga Hutan Kota Margomulyo, memainkan peran nyata sebagai pelindung hidup warga dari amukan gelombang pesisir.
Lebih dari itu, Teluk Balikpapan berfungsi sebagai pendukung ekologis kota, wilayah tangkapan air, serta tempat pemijahan biota laut komersial. Seperti udang dan kepiting. Yang menopang ekonomi keseharian ribuan nelayan tradisional secara turun-temurun.
Teluk ini juga menjadi rumah peneduh bagi pesut dan bekantan yang populasinya kian terancam. Memelihara kehidupan mereka berarti sama saja dengan menjaga kualitas air dan udara kota agar tetap sehat bagi warga.
Kehidupan satwa-satwa ini dapat dijadikan indikator alami atau “lonceng ekologi” untuk mendeteksi apakah kualitas lingkungan kota masih aman dan bersih untuk dihirup serta digunakan sehari-hari.

Namun disayangkan. Potret lapangan menunjukkan dinamika kian mencemaskan. Walau demikian, kota beruntung memiliki komunitas lokal yang militan dan peduli, baik oleh korporasi yang aktif menggelontorkan dana CSR, kelompok aktivis, maupun inisiatif spontan swadaya warga.
Pengelolaan ekowisata berbasis komunitas terbukti mampu mengubah pola pikir masyarakat yang dulu menebang bakau tanpa peduli, kini perlahan beralih menjaganya karena mendatangkan nilai ekonomi lewat ekowisata pesisir sungai. Aksi swadaya ini kian kuat berkat dukungan program pemulihan lingkungan sektor korporasi yang rutin menanam ribuan bibit di pesisir kota.
Sayangnya, aspek positif tersebut masih dibayangi oleh dilema besar pertumbuhan ekonomi bahari. Pengembangan kawasan industri pesisir seperti KIK dan perluasan infrastruktur logistik maritim dan komersial bagai dua sisi mata uang.
Di satu sisi, proyek-proyek ini memacu pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja. Tetapi sisi lain, ekosistem pesisir terancam punah akibat segmentasi tata ruang.

Data satelit menunjukkan kenyataan pahit. Dimana khusus untuk Teluk Balikpapan, dari 2.223 hektare hutan mangrove yang seharusnya dilindungi dalam rencana tata ruang kota, realitasnya menyusut drastis. Hanya tinggal 1.493 hektare.
Telah terjadi degradasi kawasan benteng hijau pesisir sekitar 730 hektare.Luasan yang setara 1.000 lapangan sepak bola. Kehilangan ini terjadi karena mangrove kalah bersaing dengan pembetonan pelabuhan, jembatan, jalan akses dan kawasan pergudangan logistik baru.
Sementara, jika dihitung secara keseluruhan untuk wilayah Kota Balikpapan, luasan mangrove awalnya sekitar 2.565,28 hektare kini tersisa 1.775,28 hektare. Penyusutan sekitar 790 hektare (30,8%) ini mengindikasikan bahwa sepertiga kawasan mangrove telah beralih fungsi. (bersambung)
*Disclaimer:
“Pandangan dalam opini ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan resmi dari BerandaPost.com. Kami menyediakan ruang bagi berbagai perspektif untuk berdiskusi dan berbagi pandangan dalam berbagai topik. Penulis bertanggung jawab penuh atas isi tulisannya.”

