Oleh: Dr. Sri Nur Azizah, M.A.R.S
Tangis bayi akhirnya pecah dalam ruang bersalin. Rasa haru menyelimuti pasangan suami istri yang baru saja dikaruniai buah hati. Namun, di balik kebahagiaan itu, sering kali menanti daftar panjang urusan administrasi.
Akta kelahiran harus diurus, kartu keluarga diperbarui, dan bayi segera didaftarkan sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jika muncul kendala administrasi, orang tua harus mendatangi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), BPJS Kesehatan, bahkan instansi lain. Tidak jarang semua itu dilakukan ketika ibu masih menjalani masa pemulihan, sementara bayi membutuhkan perhatian penuh.
Bagi sebagian keluarga, proses tersebut mungkin hanya melelahkan. Namun, bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, pasien yang masih menjalani perawatan, atau mereka yang belum memiliki dokumen kependudukan lengkap, urusan administrasi dapat berubah menjadi hambatan besar untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
Inovasi yang Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat
Berangkat dari kenyataan itulah RSIA Sayang Ibu Balikpapan menghadirkan SIMPATI IBU (Sistem Manajemen Pelayanan Administrasi Terintegrasi Ibu dan Anak). Inovasi ini lahir dari sebuah pertanyaan sederhana, tetapi mendasar: mengapa masyarakat harus berpindah-pindah mengurus dokumen jika semuanya dapat difasilitasi dari rumah sakit?
Melalui inovasi ini, rumah sakit tidak lagi sekadar menjadi tempat masyarakat berobat atau melahirkan. Rumah sakit juga menjadi ruang yang memberikan kepastian atas hak-hak warga negara.
Melalui SIMPATI IBU, keluarga tidak perlu lagi berkeliling ke berbagai kantor pelayanan. Cukup mengajukan permohonan melalui WhatsApp dengan mengirimkan dokumen dalam bentuk digital. Selanjutnya, petugas rumah sakit mengoordinasikan seluruh proses hingga dokumen selesai diterbitkan.
Tidak Menolak, tetapi Mencarikan Solusi
Keunggulan SIMPATI IBU bukan hanya terletak pada kemudahan layanan digital. Program ini juga hadir bagi masyarakat yang dokumen administrasinya belum lengkap.
Masih ada bayi yang lahir dari keluarga dengan administrasi kependudukan yang belum tertib. Ada pasien yang kepesertaan BPJS Kesehatannya tidak aktif ketika membutuhkan pelayanan segera. Bahkan terdapat warga terlantar maupun pendatang yang datang tanpa identitas sama sekali.
Dalam situasi seperti itu, SIMPATI IBU tidak hadir untuk menolak, melainkan membantu.
RSIA Sayang Ibu bekerja sama dengan Disdukcapil, BPJS Kesehatan, Dinas Sosial, serta Dinas Kesehatan untuk memberikan solusi sesuai kebutuhan pasien. Mulai dari penerbitan akta kelahiran, pembaruan kartu keluarga, pendaftaran JKN bayi baru lahir, verifikasi identitas pasien terlantar, hingga pengurusan kepesertaan BPJS PBI bagi masyarakat yang memenuhi syarat.
Kekuatan Kolaborasi Lintas Instansi
Kolaborasi lintas instansi menjadi fondasi utama SIMPATI IBU. Layanan yang sebelumnya tersebar di berbagai kantor kini terhubung dalam satu rangkaian proses yang sederhana.
Dari sudut pandang masyarakat, seluruh kebutuhan administrasi cukup diselesaikan melalui satu pintu pelayanan. Sementara itu, di balik layar, berbagai instansi saling berkoordinasi agar hak-hak pasien dapat dipenuhi tanpa prosedur yang berbelit.
Manfaat inovasi ini mulai terlihat. Sepanjang 2025, SIMPATI IBU telah memfasilitasi penerbitan 367 akta kelahiran bayi baru lahir, 383 pembaruan kartu keluarga, 493 pendaftaran JKN bayi baru lahir, 38 pengajuan BPJS PBI, serta membantu lima pasien terlantar dan pendatang memperoleh kepastian identitas kependudukan.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat keluarga yang tidak lagi direpotkan oleh urusan administrasi ketika sedang menghadapi momen penting dalam kehidupannya.
Digital yang Tetap Humanis
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, masyarakat sesungguhnya tidak hanya menginginkan layanan yang serba digital. Mereka juga mendambakan pelayanan yang lebih manusiawi.
Pelayanan yang memahami bahwa seorang ibu yang baru melahirkan seharusnya dapat beristirahat bersama bayinya, bukan mengantre di berbagai kantor pemerintahan. Pelayanan yang menyadari bahwa keluarga pasien lebih membutuhkan waktu mendampingi orang yang mereka cintai daripada mengurus tumpukan dokumen.
Inilah esensi SIMPATI IBU.
SIMPATI IBU membuktikan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Inovasi justru lahir ketika penyelenggara layanan mampu melihat persoalan dari sudut pandang masyarakat, menyederhanakan proses yang panjang, dan membangun kolaborasi lintas instansi.
Bagi RSIA Sayang Ibu Balikpapan, keberhasilan rumah sakit tidak hanya diukur dari suksesnya tindakan medis. Keberhasilan juga tercermin ketika setiap bayi pulang dengan identitas yang sah, setiap keluarga memperoleh kepastian jaminan kesehatan, dan tidak ada lagi warga yang kehilangan hak hanya karena terkendala administrasi.
Pada akhirnya, pelayanan kesehatan bukan semata-mata tentang menyembuhkan penyakit. Pelayanan kesehatan juga tentang menghadirkan rasa tenang, memberikan kepastian, dan memastikan setiap anak Indonesia memulai kehidupannya dengan seluruh hak dasar yang telah terpenuhi sejak hari pertama dilahirkan. (*)
*Disclaimer:
“Pandangan dalam opini ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan resmi dari BerandaPost.com. Kami menyediakan ruang bagi berbagai perspektif untuk berdiskusi dan berbagi pandangan dalam berbagai topik. Penulis bertanggung jawab penuh atas isi tulisannya.”

