EKONOMI
Beranda / EKONOMI / Inflasi Balikpapan Dipengaruhi Harga BBM, Tas Sekolah Sumbang Deflasi

Inflasi Balikpapan Dipengaruhi Harga BBM, Tas Sekolah Sumbang Deflasi

Inflasi Balikpapan mencapai 0,86 persen pada Juni 2026 karena naiknya harga BBM nonsubsidi. (Berandapost.com)

BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Inflasi Balikpapan pada Juni 2026 sebesar 0,86 persen secara bulanan (mtm) pada Juni 2026. Pemicu kenaikan harga terutama oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tarif angkutan udara yang masih terpengaruh tingginya biaya avtur.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 0,68 persen.

“Inflasi pada Juni 2026 terutama bersumber dari kelompok transportasi, sejalan dengan kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Termasuk juga dampak lanjutan penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik di tengah permintaan yang masih kuat,” kata Robi, Jumat (3/7/2026).

Lima komoditas yang memberikan andil inflasi Balikpapan terbesar adalah bensin, angkutan udara, bawang merah, jagung manis, dan beras.

Menurut Robi, harga bensin meningkat setelah Pertamina menyesuaikan harga Pertamax (RON 92) mulai 10 Juni 2026 menjadi Rp16.650 per liter. Sebelumnya harga BBM nonsubsidi tersebut Rp12.600 per liter.

BOOM, 2 Ojol Balikpapan Terima Skutik dari Pertamina Patra Niaga Kalimantan

Sementara itu, tarif angkutan udara naik sebagai dampak lanjutan penerapan fuel surcharge maksimal 50 persen dari tarif batas atas penerbangan domestik. Kebijakan pemerintah pusat itu berlaku sejak pertengahan Mei 2026.

“Sementara permintaan masyarakat terhadap penerbangan masih tetap kuat,” ujarnya.

Sedangkan naiknya harga bawang merah dan jagung manis karena terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi Jawa dan Sulawesi. Cuaca yang kurang mendukung menjadi penyebab berkurangnya pasokan.

“Selain itu, kenaikan biaya logistik turut memengaruhi harga kedua komoditas tersebut,” sebutnya.

Adapun harga beras, khususnya kategori premium, meningkat karena pasokan yang terbatas serta kenaikan harga dari distributor. Kondisi tersebut terjadi sebagai kompensasi meningkatnya biaya logistik dan kemasan plastik.

Harga TBS Sawit Tembus Rp3.469, Petani Plasma Full Senyum

Komoditas Penyumbang Deflasi

Pada sisi lain, Balikpapan juga mencatat deflasi yang terutama berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. “Andilnya sebesar 0,18 persen,” ucapnya.

Lima komoditas yang menjadi penyumbang deflasi terbesar adalah cabai rawit, semangka, bahan bakar rumah tangga, tas sekolah, dan tomat.

“Harga tas sekolah turun karena sejumlah distributor memberikan potongan harga untuk menghabiskan stok lama menjelang masuknya produk baru pada musim tahun ajaran baru,” jelasnya.

Sementara harga tomat juga mengalami penurunan karena memasuki masa panen pada sejumlah daerah sentra produksi Jawa dan Sulawesi. “Sehingga pasokan dalam pasar lokal meningkat,” pungkasnya. (bro2)

Konsumen Balikpapan Tetap Optimistis pada Triwulan II 2026