BERANDAPOST.COM, SAMARINDA – Mimpi mewujudkan Generasi Emas 2045 tidak hanya bergantung pada kualitas pendidikan dan kemajuan teknologi. Ancaman yang jauh lebih dekat justru mengintai generasi muda melalui penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif karena mudah terjangkau.
Pada masa pencarian jati diri, remaja sering kali menjadi kelompok paling rentan. Rasa ingin tahu yang tinggi, pengaruh pergaulan, hingga tekanan sosial membuat sebagian pelajar mudah terjebak pada perilaku berisiko. Kondisi inilah yang mendorong berbagai pihak terus mengingatkan pentingnya pencegahan narkoba sejak usia sekolah.
Penyuluh Narkoba Ahli Muda BNN Kaltim, Ahmat Fadholi, mengungkapkan bahwa kondisi penyalahgunaan narkotika, khususnya Kalimantan Timur (Kaltim), masih memprihatinkan. Menurutnya, tren penyalahgunaan terus menunjukkan peningkatan dan menyasar berbagai kelompok usia, termasuk pelajar.
“Kita menghadapi tantangan banyaknya generasi usia sekolah yang terpapar penyalahgunaan narkotika,” katanya, Selasa (9/6/2026).
Fenomena tersebut, kata Fadholi, tidak hanya terjadi untuk Samarinda, tetapi juga hampir merata pada seluruh kabupaten dan kota se-Kaltim. Bahkan, anak usia sekolah mulai terpapar berbagai bahan adiktif maupun obat-obatan secara tidak semestinya.
Menurutnya, kemudahan memperoleh obat tertentu menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Mereka bisa dengan mudah memperoleh obat-obatan di apotek untuk disalahgunakan. Ini tidak kalah berbahaya dari narkotika karena obat memiliki efek samping apabila mengonsumsinya tanpa dosis, komposisi, dan resep dokter yang tepat. Tentu hal itu berdampak buruk bagi kesehatan,” jelasnya.
Dampak Negatif Media Sosial
Fadholi menjelaskan, penyalahgunaan zat adiktif sering menjadi gerbang awal menuju penggunaan narkotika. Sebagian anak usia sekolah dasar bahkan mulai mencoba rokok, lem, maupun zat adiktif lainnya.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena perkembangan teknologi dan media sosial membuat akses untuk mendapatkan berbagai informasi, termasuk yang berkaitan dengan narkoba, menjadi lebih mudah.
Selain faktor lingkungan dan teknologi, persoalan kesehatan mental juga menjadi tantangan. Remaja saat ini menghadapi berbagai tekanan sosial yang kerap memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Fadholi menilai masalah sederhana dapat memicu stres dan kecemasan pada remaja apabila tidak tertangani dengan baik.
“Hal-hal sederhana, seperti merasa berbeda dari teman-temannya karena sepatu atau jilbab, bisa membuat sebagian remaja menjadi baper dan overthinking. Kondisi seperti ini perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi celah bagi penyalahgunaan narkotika,” ujarnya.
Menurutnya, kemampuan mengelola emosi dan menyaring informasi menjadi bekal penting bagi generasi muda. Remaja yang memiliki mental lebih kuat cenderung mampu menolak berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sekitar.
Karena itu, peran keluarga dan sekolah menjadi benteng utama dalam upaya pencegahan. Orang tua dan guru perlu hadir tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pendamping yang memberikan edukasi dan perhatian terhadap perkembangan anak.
“Prinsipnya, harus menggunakan obat sesuai resep dan anjuran dokter. Maka juga sangat butuh peran orang tua dan guru,” tegasnya.
Pada akhirnya, Fadholi mengajak generasi muda menjaga kesehatan fisik dan mental sebagai langkah sederhana untuk menjauhi narkoba.
“Untuk membentuk badan yang sehat dan pikiran yang sehat, terapkan pola hidup sehat dan jangan lupa untuk selalu bahagia,” pungkasnya. (bro2)

