INTERNASIONAL
Beranda / TOPIK / INTERNASIONAL / Operasi Eagle Claw, Misi Rahasia AS yang Gagal Total di Iran

Operasi Eagle Claw, Misi Rahasia AS yang Gagal Total di Iran

Sepasang helikopter RH-53D di atas kapal USS Nimitz. Empat dekade lalu, militer AS gagal menyelamatkan sandera di Iran lewat Operasi Eagle Claw, misi rahasia yang berakhir tragis dan memalukan. (Istimewa)

BERANDAPOST.COM, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini muncul di tengah demonstrasi besar-besaran dalam negera Iran serta meningkatnya ketegangan regional.

Banyak pihak menilai pengerahan tersebut berkaitan dengan kemungkinan aksi militer terhadap Teheran. Namun, jika serangan benar terjadi, sejarah mencatat Amerika Serikat pernah mencoba langkah serupa dan menuai kegagalan besar.

Empat dekade lalu, Washington melancarkan operasi militer rahasia ke Iran. Alih-alih sukses, misi itu justru tercatat sebagai salah satu episode paling memalukan dalam sejarah militer Amerika Serikat.

AWAL KRISIS SANDERA

Melansir berbagai sumber, kisah ini bermula pada 4 November 1979. Sekelompok mahasiswa revolusioner Iran menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran. Dalam aksi tersebut, mereka menyandera 53 diplomat dan warga negara AS.

Upaya diplomasi pun berjalan berbulan-bulan, tetapi tak membuahkan hasil. Situasi itu mendorong Presiden Jimmy Carter mengambil langkah ekstrem.

AS Peringatkan Iran, Ketegangan Memanas di Selat Hormuz

Pada 16 April 1980, Carter menyetujui operasi penyelamatan sandera dengan sandi Operasi Eagle Claw (Cakat Elang). Mengutip Britannica, operasi ini melibatkan empat matra militer Amerika Serikat, sekitar 130 personel elite, serta dukungan delapan helikopter RH-53D Sea Stallion, enam pesawat C-130 Hercules, satu kapal induk, dan pesawat evakuasi strategis.

RENCANA AMBISIUS YANG RUMIT

Sesuai rencana, enam pesawat C-130 membawa pasukan Delta Force dan logistik dari Oman menuju titik pendaratan rahasia gurun Iran yakni Desert One. Dari lokasi tersebut, pasukan akan bertemu delapan helikopter yang lepas landas dari kapal induk USS Nimitz.

Setelah pengisian bahan bakar, pasukan akan bergerak mendekati Teheran. Pada malam berikutnya, Delta Force akan menyusup ke ibu kota, menyerbu Kedutaan Besar AS, lalu membebaskan para sandera.

Pada saat bersamaan, pasukan Ranger Angkatan Darat akan merebut sebuah bandara sekitar Teheran sebagai titik evakuasi. Seluruh sandera dan pasukan rencananya keluar dari Iran menggunakan pesawat C-141 Starlifter.

MISI RUNTUH DI TENGAH GURUN

Namun, kenyataan berkata lain. Pada 24 April 1980, operasi ambisius itu runtuh sebelum mencapai Teheran.

Megatsunami Terjang Greenland, Bumi Bergetar Sembilan Hari

Laporan Crisis in Iran: Operation Eagle Claw mencatat helikopter menghadapi badai pasir hebat dan gangguan teknis serius. Dua helikopter rusak, sementara enam lainnya mengalami keterlambatan.

Setibanya pasukan dalam lokasi Desert One, satu helikopter tambahan ternyata tak layak terbang. Jumlah armada pun jauh dari ketentuan minimal. Komandan misi akhirnya memutuskan pembatalan.

Tragedi belum berakhir. Saat proses penarikan pasukan, satu helikopter bertabrakan dengan pesawat C-130 yang tengah mengisi bahan bakar. Benturan itu memicu ledakan besar.

Insiden tersebut menewaskan delapan personel militer Amerika Serikat dan menghancurkan dua pesawat. Pasukan yang tersisa segera melakukan evakuasi darurat, meninggalkan helikopter, perlengkapan, serta dokumen rahasia.

DAMPAK POLITIK DAN MILITER

Mengutip The Atlantic, kegagalan Operasi Eagle Claw langsung mengguncang Washington. Presiden Jimmy Carter tampil ke hadapan publik dan mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.

AS Buka Opsi Serangan Preemptif, Iran Terjepit Tekanan Global

Sebaliknya, kegagalan ini justru menjadi euforia bagi Iran. Warga merayakan gagalnya aksi militer Amerika Serikat. Bangkai pesawat dan helikopter yang tertinggal bahkan pihak Iran pamerkan sebagai simbol kemenangan dan perlawanan terhadap kekuatan Amerika.

Insiden ini tak hanya mempermalukan Amerika Serikat di mata dunia, tetapi juga melemahkan posisi politik Carter. Banyak pengamat menyebut kegagalan Operasi Eagle Claw sebagai salah satu faktor penting kekalahannya pada pemilihan presiden AS tahun 1980.

Bagi militer Amerika Serikat, peristiwa ini menjadi pelajaran pahit. Evaluasi internal mengungkap lemahnya koordinasi antar matra. Sejak saat itu, militer AS memperkuat sistem komando terpadu dalam operasi khusus, yang kemudian membuahkan hasil pada operasi-operasi rahasia tahun-tahun berikutnya. (bro2)