Oleh: Chehob Helmi
“Heboh. Se-heboh-heboh nya. Di jagat maya. Dan dunia nyata.”
Delapan tahun lalu, Lionel Messi menangis di MetLife Stadium, Amerika Serikat. Stadion yang sama menjadi saksi kegagalannya mengangkat trofi Copa America Centenario 2016 setelah Argentina takluk dari Chile melalui adu penalti. Messi gagal mengeksekusi tendangan penalti dan sejak saat itu menjadi sasaran kritik.
Delapan tahun berselang, stadion itu kembali menjadi panggung final. Kali ini final Piala Dunia FIFA 2026 mempertemukan Argentina dan Spanyol. Jutaan pasang mata menyaksikannya, termasuk masyarakat Indonesia. Banyak yang rela begadang pada dini hari, bahkan saat keesokan harinya harus kembali bekerja.
Hasil akhirnya tentu sudah diketahui semua orang. Sebagai pendukung fanatik Albiceleste, saya mengaku sangat sedih. Sedih sekali.
Entah mengapa, perasaan itu mengingatkan saya pada momen yang sama sekali berbeda.
Beberapa hari lalu saya menghadiri lomba mewarnai di TK Katolik Yos Sudarso, Balikpapan. Anak ketiga saya mengikuti kegiatan tersebut bersama teman-temannya dari TK Islam Darul Hikmah.
Sebelum acara dimulai, panitia memutar Hymne Balikpapan. Lagu itu dinyanyikan dengan tempo lambat.
Yang ikut bernyanyi hanya panitia dan para guru. Anak-anak berdiri diam. Sebagian orang tua juga hanya berdiri atau duduk tanpa ikut bersuara.
Anak saya bahkan menguap sampai tiga kali.
Tentu saya yakin bukan karena lagunya. Mungkin memang masih mengantuk.
Namun, pemandangan itu membuat saya berpikir.
Sebagai pendukung biru langit-putih, saya memilih tidak terlalu lama larut dalam kesedihan akibat kekalahan Argentina. Cukup sebentar saja. Toh Messi dan kawan-kawan sudah memberikan kebahagiaan empat tahun lalu saat menjuarai Piala Dunia di Qatar.
Kalau dipikir-pikir, dulu setiap Argentina kalah, rasanya makanan pun kehilangan cita rasa. Tidur juga tidak pernah nyenyak.
Untungnya, kali ini perasaan itu lebih mudah saya kendalikan.
Lagi pula, Spanyol memang layak menjadi juara.
Permainan mereka luar biasa sepanjang turnamen. Tidak pernah kalah. Hanya kebobolan satu gol, yakni saat menghadapi Belgia di perempat final. Bahkan, hanya Tanjung Verde yang mampu membuat Lamine Yamal dan kawan-kawan gagal mencetak gol sepanjang turnamen.
Ketika Teori Konspirasi Bermunculan
Seusai final, media sosial langsung dipenuhi berbagai teori konspirasi.
Api spekulasi semakin membesar setelah beredar potongan video ruang ganti Argentina sebelum pertandingan dimulai.
Dalam terjemahan yang saya baca, Messi meminta rekan-rekannya fokus menghadapi pertandingan dan melupakan “masalah”. Masalah apa? Tidak pernah dijelaskan.
Beberapa media Argentina kemudian membantah narasi tersebut. Mereka menyebut Messi saat itu hanya sedang memberikan motivasi kepada rekan-rekannya.
Apakah isu itu berhenti?
Ternyata tidak.
Netizen tetap bergeming.
Bahkan, berbagai “bukti” terus bermunculan.
“Aneh, tidak ada satu pun mantan pemain timnas Argentina yang disorot kamera.”
“Diego Simeone tidak terlihat. Padahal hampir selalu hadir saat Argentina bermain.”
“Istri dan keluarga Messi juga tidak kelihatan. Ada apa?”
Masih banyak lagi teori lain yang beredar.
Sebagian masuk akal. Sebagian lagi terdengar terlalu dipaksakan.
Begitulah media sosial bekerja.
Messi yang Selalu Memberi Harapan
Terlepas dari semua spekulasi itu, sulit membantah bahwa Messi kembali tampil luar biasa.
Pada usia 39 tahun, ia masih mampu mencetak delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen.
Rasanya belum ada pemain lain yang mampu mempertahankan kualitas seperti itu pada usia yang sudah tidak muda lagi.
Setiap Argentina membutuhkan harapan, Messi hampir selalu menjadi jawabannya.
Bahkan setelah peluit panjang berbunyi, para pendukung Argentina tetap memberikan penghormatan.
Lagu “Muchachos, Ahora Nos Volvimos a Ilusionar” bergema memenuhi stadion.
Puluhan ribu orang bernyanyi serempak.
Tangan mereka terangkat ke udara.
Suasana itu merinding.
Lagu tersebut memang memiliki makna yang sangat dalam bagi rakyat Argentina. Bukan sekadar lagu sepak bola, melainkan simbol harapan, kebanggaan, kecintaan kepada negara, dukungan kepada Messi, sekaligus penghormatan kepada Diego Maradona.
Balikpapan juga Butuh Lagu Kebanggaan
Dari situlah pikiran saya kembali melayang ke Balikpapan.
Mungkin sudah saatnya kota ini memiliki lagu yang benar-benar hidup di tengah masyarakat. Bukan sekadar lagu resmi yang diputar saat acara seremonial, melainkan lagu yang mampu membuat siapa pun spontan ikut bernyanyi.
Lagu yang membangkitkan rasa bangga.
Lagu yang membuat tangan otomatis terangkat ke udara.
Lagu yang dinyanyikan anak-anak, orang tua, hingga seluruh warga tanpa harus diminta.
Kalau itu terwujud, mungkin saya tidak akan lagi teringat kesedihan karena Argentina gagal juara setiap mendengar sebuah lagu.
Biarlah rasa sedih itu cukup untuk Messi.
Sebab, besar kemungkinan kita tak akan lagi melihatnya tampil di Piala Dunia dengan balutan seragam biru langit-putih. Vamos!!
*Disclaimer:
“Pandangan dalam opini ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan resmi dari BerandaPost.com. Kami menyediakan ruang bagi berbagai perspektif untuk berdiskusi dan berbagi pandangan dalam berbagai topik. Penulis bertanggung jawab penuh atas isi tulisannya.”

