BERANDAPOST.COM, TENGGARONG – Komoditas kratom mulai mencuri perhatian sebagai sumber ekonomi baru. Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini menjadi rujukan pengembangan tanaman tersebut.
Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, menerima kunjungan Pemprov Kalimantan Utara. Agenda ini fokus pada studi pengelolaan kratom.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltara, Heri Rudiono memimpin rombongan. Pertemuan berlangsung dalam Kantor Bupati Kukar, Kamis (16/4/2026).
Diskusi berlangsung hangat. Pemerintah daerah saling tukar pengalaman terkait budidaya hingga peluang pasar kratom.
Sunggono menjelaskan, perjalanan kratom tidak selalu mulus. Tanaman ini sempat mendapat stigma negatif karena terkait dengan zat psikotropika.
“Namun saat ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian, BPOM, dan BRIN mulai mengarahkan penelitian serta penataan tata kelola, termasuk untuk kepentingan ekspor,” ujarnya.
Kini arah kebijakan mulai berubah. Pemerintah pusat membuka ruang riset dan tata kelola yang lebih jelas.
Kukar pun melihat peluang besar. Kratom tumbuh sebagai komoditas unggulan baru, terutama bagi petani wilayah hulu.
“Permintaan kratom untuk pasar internasional terus meningkat. Negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, India, Thailand, hingga Republik Ceko. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas dan produktivitas,” jelasnya.
Tenggarong Seberang Sentra Kratom
Salah satu sentra produksi kratom adalah Tenggarong Seberang. Wilayah ini bahkan sudah memiliki fasilitas pengolahan ekstrak kratom.
Keunggulan ini memberi nilai tambah. Tidak hanya menjual produk mentah, tetapi juga dalam bentuk olahan.
“Kita akan terus mendorong pelaku usaha dan petani agar mampu memenuhi standar pasar global, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas produksi,” tegasnya.
Pada sisi lain, Pemprov Kaltara melihat peluang serupa. Mereka ingin mengadopsi pola pengembangan yang Kukar jalankan.
“Kami melihat kratom sebagai peluang ekonomi baru yang menjanjikan bagi petani. Oleh karena itu, kami ingin menggali informasi lebih dalam agar dapat mengadopsinya bagi Kalimantan Utara,” ujar Heri.
Kunjungan ini tidak berhenti pada diskusi. Rombongan juga berencana meninjau langsung lokasi produksi.
“Kami juga meninjau langsung lokasi produksi dan pengolahan kratom agar mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif,” pungkasnya. (bro2)

