BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) memanfaatkan ajang Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 di BSCC Dome Balikpapan. Dalam pameran tersebut, Otorita IKN memamerkan perkembangan pembangunan Nusantara kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Juru Bicara Otorita IKN, Troy Pantouw, mengatakan keikutsertaan dalam pameran tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan antusiasme dunia usaha terhadap pembangunan IKN.
“Khususnya pada sektor konstruksi, teknik, dan infrastruktur,” kata Troy, Rabu (10/6/2026).
Selain itu, Otorita IKN juga ingin menegaskan bahwa pembangunan ibu kota baru tetap berjalan sesuai rencana pemerintah. Menurutnya, pembangunan IKN saat ini terus berlanjut sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Kepala Otorita IKN.
“Kami berpartisipasi untuk menyampaikan kepada publik bahwa pembangunan IKN tetap berjalan. Informasi yang menyebut pembangunan berhenti atau tidak berjalan itu tidak benar,” jelasnya.
Fokus Tahap Dua Pembangunan
Troy menjelaskan saat ini pembangunan IKN memasuki tahap kedua yang berfokus pada pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif. Pembangunan tersebut mencakup gedung parlemen beserta fasilitas pendukungnya, termasuk kompleks DPR, DPD, dan MPR.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembangunan kawasan yudikatif yang akan menjadi lokasi berbagai lembaga peradilan nasional.
“Amanat Presiden adalah menyelesaikan pembangunan tahap dua IKN, yaitu kawasan legislatif dan yudikatif beserta ekosistem pendukungnya,” ujarnya.
Ia menambahkan target tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025 yang menetapkan Nusantara sebagai ibu kota politik Indonesia pada 2028.
“IKN akan menjadi ibu kota politik pada tahun 2028. Karena itu seluruh tahapan pembangunan harus diselesaikan sesuai target,” tegasnya.
Usung Konsep Kota Hutan
Dalam pelaksanaannya, pembangunan IKN tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan melalui konsep smart city, forest city, dan sponge city. Troy menjelaskan konsep forest city menjadi salah satu ciri utama pembangunan Nusantara. Porsi pembangunan fisik hanya sekitar 20 persen dari keseluruhan kawasan.
Sementara sebagian besar area untuk mendukung fungsi lingkungan dan ruang hijau. Menurut Troy, pendekatan tersebut bertujuan menciptakan keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
“Kami lebih banyak melakukan penguatan konsep forest city melalui penanaman kembali atau rewilding agar kawasan tetap memiliki karakter alami dan hijau,” jelasnya.
Teknologi dan Pengelolaan Air Jadi Prioritas
Selain konsep kota hutan, pembangunan IKN juga menerapkan konsep smart city dengan mengintegrasikan teknologi digital ke dalam berbagai layanan dan infrastruktur kota.
Sementara konsep sponge city melalui pembangunan embung dan sistem pengelolaan air untuk menjaga keseimbangan lingkungan serta mendukung ketahanan iklim kawasan.
“Smart city berarti kita memperhatikan unsur teknologi dan digital dalam pembangunan. Sedangkan sponge city berkaitan dengan pengelolaan air dan pembangunan embung untuk membantu menjaga kondisi lingkungan,” pungkasnya. (bro2)

