BERANDAPOST.COM, TANGERANG – Arus keluar masuk komoditas melalui pintu gerbang Indonesia terus meningkat seiring berkembangnya perdagangan global. Dari balik kelancaran aktivitas tersebut, Badan Karantina Indonesia (Barantin) memegang peran penting menjaga keamanan hayati. Sekaligus juga memastikan komoditas ekspor nasional mampu bersaing di pasar internasional.
Besarnya tanggung jawab itu mendorong Komisi IV DPR RI meminta pemerintah memperkuat Barantin, baik dari sisi kelembagaan, anggaran, sumber daya manusia, maupun fasilitas pendukung. Penguatan tersebut dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar pengawasan pada pintu masuk dan keluar negara berjalan semakin optimal.
Komisi IV Soroti Kebutuhan Sarana dan Laboratorium
Anggota Komisi IV DPR RI, Rina Sa’adah, menyampaikan dukungannya terhadap penguatan. Menurutnya, semangat para petugas karantina dalam menjaga lalu lintas komoditas sudah sangat baik.
Namun masih memerlukan peningkatan terhadap dukungan fasilitas dan peralatan agar tugas pengawasan dapat berlangsung lebih maksimal.
“Kalau melihat sarana dan prasarananya, ya masih perlu peningkatan,” kata Rina, Minggu (19/7/2026).
Rina menilai laboratorium yang tersertifikasi dengan dukungan teknologi modern menjadi salah satu faktor utama untuk memastikan komoditas yang masuk ke Indonesia aman bagi masyarakat. Pada sisi lain, fasilitas tersebut juga berperan penting menjamin produk ekspor nasional memenuhi standar negara tujuan.
Karena itu, ia berharap pemerintah memperkuat dukungan anggaran agar Barantin mampu meningkatkan kualitas laboratorium. Termasuk juga melengkapi peralatan, sekaligus memperluas kerja sama dengan berbagai negara.
“Perlu dukungan dari sisi anggaran supaya mereka bisa meningkatkan kualitas lab-nya dan perlengkapannya. Bahkan juga menjalin kerja sama-kerja sama dengan negara lain,” imbuhnya.
Beban Kerja Terus Meningkat
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Darori Wonodipuro menilai penguatan Barantin menjadi kebutuhan penting. Ia menegaskan hal itu karena mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak pintu masuk dan keluar.
“Sehingga memerlukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas komoditas.,” kata Darori.
Besarnya beban kerja tersebut terlihat dari aktivitas pelayanan dalam Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Satuan Pelayanan Bandara Soekarno-Hatta menerbitkan 80.777 sertifikat untuk layanan impor, ekspor, domestik masuk, dan domestik keluar komoditas hewan, ikan, serta tumbuhan.
Pada periode yang sama, Laboratorium Terintegrasi Karantina Banten juga melaksanakan 1.562 pengujian karantina hewan, 9.324 pengujian karantina ikan, 3.924 pengujian karantina tumbuhan, serta 325 pengujian keamanan mutu pangan dan pakan sebagai dasar pelaksanaan tindakan karantina terhadap media pembawa.
Investasi untuk Ketahanan Hayati
Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia, Shahandra Hanitiyo, menegaskan penguatan sektor karantina bukan sekadar memenuhi kebutuhan operasional, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi perlindungan sumber daya hayati Indonesia.
Menurutnya, sistem karantina merupakan bagian penting dari biosekuriti nasional yang berperan menjaga Indonesia dari ancaman hama, penyakit, maupun organisme pengganggu yang dapat merugikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga perdagangan.
“Karantina merupakan elemen krusial dalam sistem biosekuriti nasional yang tidak terpisahkan dari upaya melindungi sumber daya hayati Indonesia. Dukungan terhadap penguatan layanan dan infrastruktur karantina menjadi investasi penting untuk menjaga ketahanan hayati nasional sekaligus mendukung kelancaran perdagangan yang aman dan berdaya saing,” tutupnya. (bro2)

