EKONOMI
Beranda / EKONOMI / NEA 2026, BI Balikpapan Siapkan 41 UMKM Menuju Pasar Ekspor

NEA 2026, BI Balikpapan Siapkan 41 UMKM Menuju Pasar Ekspor

BI Balikpapan membina 41 UMKM potensial ekspor melalui Nusantara Export Academy 2026 untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses ke pasar global. (HO - BI Balikpapan)

BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan memperkuat upaya mendorong UMKM naik kelas melalui perluasan akses ke pasar internasional. Sebanyak 41 UMKM potensial ekspor dari Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser mengikuti Workshop Nusantara Export Academy atau NEA 2026. Workshop tersebut berlangsung pada 13 hingga 15 Juli 2026.

Kepala KPw BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan program NEA untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM agar siap bersaing dalam pasar global.

“Tentunya dengan memperkuat kapasitas pelaku usaha dan meningkatkan kualitas produk. Sehingga produk UMKM semakin siap ekspor serta memiliki daya saing yang lebih tinggi,” kata Robi.

Ia menjelaskan, Workshop NEA tidak hanya berlangsung selama tiga hari, tetapi berlanjut dengan pendampingan intensif selama tiga bulan. “Agar seluruh dapat menerapkan materi yang mereka terima secara nyata,” jelasnya.

Menurut Robi, program tersebut juga merupakan tindak lanjut atas Komitmen Bersama Perluasan Akses Ekspor. Penandatanganan komitmen tersebut berlangsung pada rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) 2026, 27 Juni lalu.

PHI – PHSS Perkuat Hubungan Industrial Melalui PKB 2026-2028

Kolaborasi tersebut melibatkan Kantor Wilayah Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Pemerintah Kota Balikpapan, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Pemerintah Kabupaten Paser, Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Politeknik Negeri Balikpapan, Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Kalimantan Timur mewakili Export Center Balikpapan, serta sektor perbankan.

Sebanyak 41 peserta yang mengikuti workshop merupakan UMKM dengan produk unggulan. Mulai dari makanan dan minuman olahan, kriya, hingga wastra khas daerah. Mereka telah melalui proses seleksi administrasi, kurasi, dan verifikasi lapangan.

“Peserta tidak hanya UMKM binaan Bank Indonesia, tetapi juga binaan Bea dan Cukai, LPEI, pemerintah daerah, korporasi, hingga perbankan,” ujarnya.

Tantangan UMKM Memasuki Pasar Ekspor

Robi mengakui UMKM wilayah Balikpapan, PPU, dan Paser masih menghadapi berbagai tantangan untuk memasuki pasar internasional. Selain pemahaman mengenai prosedur ekspor, pelaku usaha juga masih menghadapi kendala dalam memenuhi standar global. Termasuk dalam meningkatkan kualitas kemasan, mengembangkan produk, hingga menjangkau pembeli dari luar negeri.

Pada sisi lain, kondisi geopolitik global yang belum stabil turut meningkatkan biaya logistik. Bahkan memperpanjang waktu pengiriman barang ke sejumlah negara tujuan ekspor.

PHI-Ditjen Migas-SKK Migas Evaluasi PPM, Tinjau Konservasi Bekantan dan Wasteco

“Workshop Nusantara Export Academy menjadi salah satu langkah strategis untuk menjawab tantangan tersebut melalui pembelajaran yang berkelanjutan, pendampingan, penyusunan rencana aksi ekspor, business matching dengan calon pembeli internasional, hingga pendampingan transaksi ekspor,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, KPw BI Balikpapan menggandeng berbagai mitra strategis. Akademi Mudah Ekspor (AME) bertindak sebagai pendamping utama, sementara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur memberikan materi mengenai prosedur ekspor, penentuan HS Code, layanan kepabeanan, Platform UKME, hingga fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

LPEI Balikpapan turut memberikan edukasi mengenai pembiayaan ekspor dan Coaching Program for New Exporters (CPNE). Sementara itu, Master Bagasi berbagi pengalaman memanfaatkan jaringan diaspora Indonesia untuk membuka akses pasar internasional sekaligus menawarkan peluang kurasi dan pengiriman sampel produk ke calon pembeli di luar negeri. (bro2)