EKONOMI
Beranda / EKONOMI / Harga BBM Nonsubsidi Naik, Inflasi Balikpapan Tembus 0,25 Persen

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Inflasi Balikpapan Tembus 0,25 Persen

Inflasi Balikpapan Juli 2026 mencapai 0,25 persen. Kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi pemicu utama inflasi daerah. (Berandapost.com)

BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Pergerakan harga BBM nonsubsidi ikut mengerek inflasi Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Balikpapan pada Juli 2026 mencapai 0,25 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Kenaikan tersebut berasal dari kelompok transportasi yang memberikan andil sebesar 0,31 persen, terutama harga BBM nonsubsidi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kenaikan harga pada kelompok transportasi berkaitan dengan kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

“Inflasi tersebut karena kenaikan harga pada kelompok transportasi, sejalan dengan kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi,” kata Robi, Selasa (4/8/2026).

Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 3,06 persen secara year-on-year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dari inflasi nasional yang berada pada level 2,88 persen.

Selain bensin, sejumlah komoditas turut mendorong inflasi pada Juli. Lima komoditas dengan sumbangan inflasi tertinggi yakni BBM, pelumas atau oli mesin, bakso siap santap, pemeliharaan atau servis, dan sawi hijau.

Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan Donasi Buku untuk Literasi Anak

Harga BBM meningkat setelah Pertamina menaikkan harga Pertamax (RON 92) mulai 10 Juni 2026. Naiknya harga Pertamax dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter.

Bakso Ikut Sumbang Inflasi

Kenaikan harga pelumas atau oli mesin juga menjadi salah satu pemicu inflasi. Menurut Robi, kondisi tersebut terjadi karena harga base oil sebagai bahan baku utama pembuatan pelumas masih tinggi di tengah meningkatnya biaya produksi.

Tak hanya kebutuhan kendaraan, harga makanan juga ikut mengalami kenaikan. Bakso siap santap tercatat mengalami peningkatan harga akibat kenaikan biaya bahan baku dan operasional usaha.

“Selanjutnya, Bakso siap santap mengalami kenaikan harga karena peningkatan biaya produksi, akibat kenaikan harga bahan baku dan biaya operasional usaha, sehingga mendorong pelaku usaha melakukan penyesuaian harga jual untuk mengompensasi kenaikan biaya tersebut,” ujarnya.

Biaya pemeliharaan dan servis kendaraan turut mengalami kenaikan. Peningkatan harga suku cadang dan bahan pendukung servis, termasuk pelumas, membuat biaya operasional bengkel meningkat.

Semarak Kemerdekaan 2026, Intiwhiz Beri Diskon Menginap

Kondisi tersebut kemudian mendorong penyedia jasa menyesuaikan tarif pemeliharaan dan servis.

Sementara itu, harga sawi hijau ikut naik akibat terbatasnya pasokan dan produksi. Periode hujan yang masih berlangsung turut berdampak pada biaya usaha tani dan harga jual komoditas tersebut.

Lima Komoditas Menekan Inflasi

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, tekanan inflasi Balikpapan sedikit tertahan oleh penurunan harga sejumlah kebutuhan masyarakat. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil sebesar 0,15 persen (mtm).

Lima komoditas yang mencatat penurunan harga terdalam pada Juli 2026 yakni cabai rawit, tomat, emas perhiasan, bawang merah, dan angkutan udara.

Harga cabai rawit, tomat, dan bawang merah turun seiring meningkatnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi. Masuknya periode panen kawasan Pulau Jawa dan Sulawesi membuat ketersediaan stok meningkat.

Bright Gas Drive Thru Pertama Indonesia Hadir di Balikpapan

Sementara itu, tarif angkutan udara mengalami penurunan setelah Pertamina Patra Niaga menurunkan harga avtur untuk penerbangan domestik sebesar 14 persen mulai 1 Juli 2026.

Selanjutnya, harga emas perhiasan juga ikut turun. Kondisi tersebut akibat melandainya permintaan global karena sejumlah investor beralih ke instrumen investasi selain emas.

“Sehingga menyebabkan penurunan harga emas, baik pada tingkat global maupun domestik,” jelas Robi. (bro2)