BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Kasus makanan bergizi gratis (MBG) yang sempat basi pada beberapa sekolah menjadi perhatian serius Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Regional Kaltim.
Kepala SPPI Regional Kaltim, Binti Maulina Putri, menyebut insiden tersebut langsung mendapat tindakan berupa penarikan MBG sebelum sempat terdistribusi ke siswa.
“Pernah ada kasus menu MBG yang basi, tapi kami minta pihak sekolah tidak mendistribusikannya karena tidak layak konsumsi. Begitu prosedur standar kami,” ujar Binti, Selasa (11/11).
Ia menjelaskan, kejadian serupa tercatat satu kali pada Kota Balikpapan dan satu kali untuk KotaSamarinda. Namun, seluruh kasus langsung mendapatkan respons dengan penarikan makanan.
“Begitu ada temuan, langsung ditarik. Tidak boleh didistribusikan,” tegasnya.
Binti menambahkan, kasus tersebut menjadi bahan evaluasi internal SPPI untuk memperkuat pengawasan pada seluruh rantai penyediaan makanan bergizi, mulai dari bahan baku hingga pendistribusian ke sekolah.
“Hasil evaluasinya, kami selalu berbenah dan menegakkan prosedur standar ke semua lini. Jangan menerima bahan makanan yang tidak sesuai kualitasnya, bahkan jangan membeli kalau harga bahannya tidak sesuai,” ujarnya.
SPPG BALIKPAPAN MASIH KURANG
Selain memastikan keamanan makanan, SPPI juga memperhatikan ketersediaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Kota Balikpapan. Dari total potensi 64 unit, baru 10 SPPG yang aktif beroperasi.
“Masih jauh dari yang kami harapkan. Belum ada satupun SPPG yang beroperasi untuk Kecamatan Balikpapan Utara, Barat, dan Timur,” kata Binti.
SPPI Regional Kaltim terus berupaya menambah jumlah SPPG, termasuk mempercepat pembangunan bagi wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T). Saat ini, progres pembangunan SPPG wilayah 3T telah berjalan pada delapan kabupaten Provinsi Kaltim.
Untuk menjamin kualitas layanan, pihaknya juga mendorong setiap SPPG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan sertifikat halal.
“Kami menekan SPPG boleh beroperasi sambil mengurus SLHS. Tapi jika dalam satu bulan tidak ada progres, akan kami laporkan untuk setop operasional. Sejauh ini belum ada yang kami hentikan karena mitra sangat kooperatif,” jelasnya.
Binti berharap seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan bergizi dapat menjaga kualitas produk agar kejadian serupa tidak terulang. “Makanan untuk anak-anak harus benar-benar terjamin, baik dari segi bahan, proses, maupun kebersihannya,” tutupnya. (bro2)



