BERANDAPOST.COM, PENAJAM – Suasana Masjid Darul Aman, Kecamatan Waru, Jumat (22/5/2026), terasa berbeda. Usai salat Jumat, satu per satu warga menyampaikan keluhan langsung kepada Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor. Mulai dari harga sawit yang anjlok, ancaman kerusakan masjid, hingga persoalan banjir yang terus menghantui permukiman warga.
Momen Safari Jumat itu bukan sekadar agenda seremonial. Pemkab PPU membawa sejumlah kepala OPD agar berbagai persoalan masyarakat bisa langsung mendapat respons dan penjelasan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati PPU Abdul Waris Muin, Sekretaris Daerah PPU Tohar, para asisten, staf ahli bupati, serta jajaran organisasi perangkat daerah.
Mudyat Noor mengatakan Safari Jumat menjadi ruang silaturahmi sekaligus wadah dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat.
“Karena itu kami membawa sejumlah OPD agar bisa langsung menindaklanjuti atau memberikan penjelasan,” kata Mudyat Noor.
Ia menegaskan Pemkab PPU terus berupaya memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat, terutama di tengah tekanan fiskal yang masih cukup berat.
“Bagaimana APBD ini benar-benar bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena kesejahteraan masyarakat jauh lebih penting,” ujarnya.
Mudyat juga menjelaskan Pemkab PPU tidak langsung menangani semua persoalan infrastruktur karena adanya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.
“Ada jalan nasional, ada jalan provinsi. Jadi pemerintah kabupaten hanya bisa mengusulkan. Jangan sampai ada anggapan pemerintah daerah tidak peduli terhadap kerusakan jalan yang menjadi kewenangan provinsi ataupun pusat,” jelasnya.
Wakil Bupati Ajak Berdiskusi
Sementara itu, Abdul Waris Muin mengajak masyarakat tetap menjaga komunikasi yang sehat dengan pemerintah daerah dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
“Silakan sampaikan kalau ada keluhan. Jangan justru membuat berita hoaks atau informasi yang tidak berimbang. Mari kita pecahkan persoalan bersama-sama,” ucap Abdul Waris.
Dalam sesi dialog, keluhan warga pun mengalir. Salah satu yang paling banyak menjadi sorotan adalah anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit yang turun hingga Rp800 per kilogram.
Bagi sebagian besar warga Waru yang menggantungkan hidup dari kebun sawit, penurunan harga itu terasa sangat memukul ekonomi keluarga.
Menanggapi hal tersebut, Mudyat menyebut banyak faktor yang memengaruhi penurunan harga sawit, termasuk tata niaga yang masih menjadi persoalan.
“Selama ini memang banyak permainan harga sawit. Kita berharap penurunan harga sawit ini bisa segera teratasi,” katanya.
Warga Curhat Kondisi Masjid
Keluhan lain datang dari pengurus Masjid Darul Aman. Mereka mengungkapkan kondisi menara masjid mulai bergeser hingga memunculkan retakan pada beberapa bagian bangunan.
Mudyat Noor menilai keselamatan jamaah harus menjadi prioritas utama.
“Kalau memang menara itu berdampak terhadap bangunan masjid dan membahayakan, lebih baik dibongkar demi keselamatan umat,” tegasnya.
Selain persoalan bangunan masjid, pengurus juga mengeluhkan minimnya bantuan hewan kurban karena masjid tidak memiliki donatur tetap.
Mereka turut mempertanyakan besaran insentif marbot dan imam masjid yang saat ini masih sekitar Rp200 ribu.
Tak hanya itu, warga juga menyampaikan persoalan banjir akibat air pasang yang rutin menggenangi area belakang masjid dan permukiman sekitar.
Masyarakat berharap pemerintah dapat membangun tanggul penahan banjir. Bahkan, warga setempat menyatakan siap menghibahkan lahan demi mendukung pembangunan tersebut. (bro2)


