EKONOMI
Beranda / EKONOMI / Pendapatan KFC Indonesia Rp4,88 Triliun, Rugi Menyusut

Pendapatan KFC Indonesia Rp4,88 Triliun, Rugi Menyusut

KFC Indonesia catat pendapatan Rp4,88 triliun pada 2025. Rugi menyusut lebih dari 50 persen, disertai strategi efisiensi dan ekspansi bisnis. (Istimewa)

BERANDAPOST.COM, JAKARTA – PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) membukukan pendapatan Rp4,88 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik tipis 0,11 persen ketimbang 2024 sebesar Rp4,87 triliun.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (19/4/2026), kinerja tersebut karena topangan dari penjualan makanan dan minuman yang mencapai Rp4,86 triliun. Sementara komisi konsinyasi turun menjadi Rp16,91 miliar, dan jasa layanan antar naik menjadi Rp2,25 miliar.

Manajemen FAST menjelaskan, sebagian pendapatan komisi berasal dari kerja sama dengan PT Jagonya Musik dan Sport Indonesia.

“Perusahaan memperoleh penerimaan pendapatan komisi atas penjualan konsinyasi CD dan musik digital dari PT Jagonya Musik dan Sport Indonesia,” tulis manajemen dalam laporan keuangan.

Dari sisi profitabilitas, perusahaan mencatat perbaikan signifikan. Beban pokok penjualan turun menjadi Rp1,99 triliun dari Rp2,03 triliun. Kondisi ini mendorong laba bruto naik menjadi Rp2,88 triliun.

Pertamina Patra Niaga Raih PROPER Emas Lewat KERAK TELOR

Sejumlah beban juga menurun, termasuk beban penjualan dan distribusi serta beban umum dan administrasi. Beban operasi lain bahkan turun tajam menjadi Rp82,98 miliar.

Perbaikan tersebut membuat rugi usaha menyusut 60,24 persen menjadi Rp311,66 miliar. Rugi bersih juga turun 54,05 persen menjadi Rp366,04 miliar, dari sebelumnya Rp796,71 miliar.

Sedangkan dari sisi neraca, total aset FAST meningkat 40,22 persen menjadi Rp4,94 triliun. Liabilitas turut naik menjadi Rp4,51 triliun.

Kenaikan ini terutama karena pengaruh entitas anak, PT Jagonya Ayam Indonesia, yang tengah membangun peternakan ayam terpadu.

Direktur VII FAST, Dio May Avico, menjelaskan lonjakan aset tersebut terkait ekspansi bisnis.

PLN Kaltimra Terapkan Clean Energy Day Tiap Jumat

“80 persen dari pembiayaan bersumber pada utang bank,” ujarnya.

Meski mencatat perbaikan kinerja, perusahaan mengakui masih menghadapi tekanan likuiditas akibat kondisi makroekonomi dan pelemahan daya beli.

“Manajemen menyadari bahwa kondisi yang dihadapi saat ini sangat menantang,” tulis manajemen FAST.

Untuk menjaga keberlanjutan usaha, FAST menyiapkan strategi penguatan menu inti, efisiensi biaya, serta optimalisasi jaringan restoran. (bro2)

Daftar Harga BBM Nonsubsidi di Kaltim, Pertamax Turbo Melonjak