BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Kota Balikpapan mencatat inflasi sebesar 0,27 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026. Meski mengalami kenaikan, laju inflasi dinilai masih berada dalam level yang terjaga dan terkendali.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan pemicu utama inflasi adalah kenaikan harga pada kelompok transportasi dan energi.
“Perubahan harga yang terjadi pada Mei 2026 masih dalam level yang terjaga dan terkendali. Inflasi sejalan dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta fuel surcharge penerbangan domestik,” kata Robi.
Menurutnya, meningkatnya permintaan tiket pesawat selama dua periode long weekend pada Mei 2026 turut mendorong kenaikan tarif angkutan udara.
Transportasi Jadi Penyumbang Utama Inflasi
Robi menjelaskan Kelompok Transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 0,43 persen (mtm). Lima komoditas utama penyumbang inflasi tertinggi pada Mei 2026 yakni angkutan udara, pelumas atau oli mesin, roti manis, beras, dan solars.
Tarif angkutan udara meningkat setelah pemerintah melakukan penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik mulai 13 Mei 2026. Kebijakan tersebut sebagai respons terhadap kenaikan harga avtur.
“Kenaikan tarif angkutan udara juga karena meningkatnya permintaan perjalanan pada dua periode long weekend sepanjang Mei 2026,” ujarnya.
Selain itu, harga solar mengalami kenaikan setelah PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga BBM diesel non-subsidi pada beberapa periode sepanjang Mei.
Kenaikan harga minyak dunia juga berdampak terhadap naiknya harga pelumas atau oli mesin. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah meningkatnya biaya logistik dan distribusi.
Sementara itu, harga roti manis dan beras ikut mengalami kenaikan akibat meningkatnya biaya kemasan plastik serta ongkos distribusi.
“Untuk komoditas beras premium, kenaikan harga karena terbatasnya pasokan, sedangkan permintaan tetap tinggi menjelang Iduladha,” jelasnya.
LPG, Kangkung, dan Ayam Tekan Inflasi
Pada sisi lain, inflasi yang lebih tinggi berhasil diredam oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil sebesar 0,08 persen (mtm).
Lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam pada Mei 2026 adalah bahan bakar rumah tangga, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat.
Menurut Robi, harga bahan bakar rumah tangga mengalami penurunan berkat pelaksanaan operasi pasar. Sehingga membantu menjaga stabilitas harga pada tingkat konsumen.
“Sekaligus mendukung kelancaran distribusi dan kecukupan stok,” terangnya.
Harga kangkung juga menurun karena meningkatnya pasokan dari petani lokal. Sementara itu, harga emas perhiasan turun seiring melemahnya permintaan global.
“Akibat pergeseran minat investor ke instrumen investasi selain emas,” ungkapnya.
Untuk komoditas pangan, harga daging ayam ras mengalami penurunan karena meningkatnya pasokan ayam beku dari Pulau Jawa dan ayam segar dari wilayah Balikpapan serta sekitarnya.
Adapun harga tomat turun karena masuknya masa panen pada sejumlah daerah sentra produksi, terutama Jawa dan Sulawesi, sehingga pasokan untuk pasar lokal meningkat. (bro2)

