PPU
Beranda / DAERAH / PPU / PPU Catat Deflasi 0,06 Persen, Pasokan Pangan Stabil

PPU Catat Deflasi 0,06 Persen, Pasokan Pangan Stabil

PPU mengalami deflasi 0,06 persen pada Mei 2026. Stabilnya pasokan pangan dan operasi pasar membantu menjaga inflasi tetap terkendali. (Berandapost.com)

BERANDAPOST.COM, PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat deflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026. Kondisi tersebut menunjukkan perkembangan harga yang tetap terjaga dan terkendali. Terutama saat permintaan masyarakat meningkat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan stabilitas harga karena dukungan ketersediaan pasokan berbagai komoditas pangan strategis.

“Perubahan harga untuk Kabupaten PPU masih berada pada level yang terjaga dan terkendali,” kata Robi, Minggu (7/6/2026).

Menurutnya, berbagai program stabilisasi harga seperti gerakan pangan murah, pasar murah, dan operasi pasar sepanjang Mei 2026 berhasil menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok.

“Sehingga lonjakan permintaan menjelang Iduladha tidak memicu gejolak harga yang signifikan,” jelasnya.

BLT Kemiskinan Daerah PPU Cair, Ratusan Keluarga Terima Rp1,62 Juta

Inflasi Tahunan Lebih Rendah dari Nasional

Secara tahunan, inflasi Kabupaten PPU tercatat sebesar 2,33 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah ketimbang inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen. Termasuk juga terhadap inflasi gabungan empat kota Kalimantan Timur sebesar 3,04 persen.

“Perkembangan inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen plus minus satu persen,” ujarnya.

Bank Indonesia optimistis inflasi PPU hingga akhir tahun tetap terkendali dalam target nasional. “Berkat penguatan koordinasi antarinstansi dan penguatan ketahanan pangan daerah,” terangnya.

Daging Ayam dan Hasil Laut Tekan Inflasi

Robi menjelaskan deflasi terdalam pada Mei 2026 berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,26 persen. Lima komoditas utama penyumbang deflasi adalah daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, udang basah, dan tomat.

“Penurunan harga daging ayam ras karena meningkatnya pasokan ayam beku dari Pulau Jawa. Ada juga dukungan ayam segar dari wilayah PPU dan sekitarnya,” ungkapnya.

Warga Gunung Seteleng Keluhkan Air Bersih dan Lampu Jalan

Sementara itu, harga ikan tongkol dan udang basah turun karena meningkatnya hasil tangkapan nelayan lokal. “Ini seiring kondisi cuaca yang kondusif pada perairan sekitar PPU,” sebutnya.

Untuk cabai rawit dan tomat, penurunan harga terjadi karena masuknya masa panen pada sejumlah daerah sentra produksi.

“Khususnya Jawa dan Sulawesi yang mendorong peningkatan pasokan pasar,” lanjut Robi.

Beras dan Solar Jadi Pemicu Inflasi

Meski secara umum mengalami deflasi, beberapa komoditas masih mencatat kenaikan harga. Kelompok Transportasi menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,07 persen.

“Komoditas yang memberikan kontribusi inflasi terbesar yakni beras, buncis, solar, sawi hijau, dan sigaret kretek mesin,” bebernya.

Blueprint City Branding Gerbang Nusantara Cara PPU Tarik Investasi

Kenaikan harga beras premium, lanjut Robi, karena pengaruh terbatasnya pasokan dari distributor serta meningkatnya biaya logistik dan kemasan.

“Harga solar mengalami peningkatan sebagai dampak kebijakan PT Pertamina Patra Niaga yang menaikkan harga BBM diesel nonsubsidi pada beberapa periode sepanjang Mei 2026 sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak dunia,” jelas Robi.

Harga buncis dan sawi hijau juga meningkat akibat terbatasnya pasokan karena belum memasuki masa panen, sementara permintaan masyarakat meningkat menjelang Iduladha.

Musim Kemarau Jadi Tantangan

Bank Indonesia mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi pada bulan-bulan mendatang.

Salah satunya adalah masuknya musim kemarau yang diperkirakan mulai berlangsung di Kabupaten Paser pada Juni 2026 dan berlanjut ke wilayah PPU pada Juli 2026.

Kondisi tersebut berisiko memengaruhi produksi komoditas pertanian lokal.

Selain itu, Pulau Jawa sebagai daerah pemasok utama kebutuhan pangan Kalimantan Timur juga diperkirakan menghadapi musim kemarau sejak awal triwulan II 2026.

Jika kondisi tersebut berlangsung lebih panjang, produksi dan pasokan sejumlah komoditas pangan strategis ke Kalimantan Timur berpotensi terganggu.

Karena itu, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat langkah antisipatif guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di Kabupaten Penajam Paser Utara.