BERANDAPOST.COM, MADINAH – Aroma masakan Nusantara hadir setiap hari dalam kamar-kamar jemaah. Layanan konsumsi haji 2026 hadir lebih rapi, antar langsung ke hotel, menjaga stamina dan kekhusyukan ibadah.
Rancangan sistem distribusi konsumsi haji 2026 di Madinah cukup praktis. Jemaah tak perlu keluar mencari makan. Skema ini sangat membantu, terutama bagi lansia.
Sebanyak 23 dapur katering terlibat. Seluruh proses produksi hingga pengiriman berada dalam pengawasan ketat demi menjaga mutu dan keamanan pangan.
Makanan hadir tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan malam. Setiap paket langsung tiba pada hotel tempat jemaah menginap, sehingga lebih efisien dan nyaman.
Menu mengusung cita rasa Indonesia. Bahkan memakai bumbu pasta asli Nusantara agar lidah jemaah tetap akrab dengan rasa sehari-hari, meski jauh dari tanah air.
Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, menegaskan setiap menu konsumsi haji 2026 telah melalui uji kelayakan sebelum menyajikannya kepada jemaah.
“Kita ada meal test ke Daker atau ke wisma yang mencoba terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada jemaah, guna mengecek bahwa konsumsi tersebut sudah sesuai dengan ketentuan, baik dari sisi gramasi maupun kualitasnya,” kata Indri, Sabtu (25/4/2026).
Ia juga menjelaskan jadwal distribusi makanan yang berlangsung tiga kali setiap hari.
“Pagi pukul 05.00–08.00 WAS, siang pukul 12.00–14.00 WAS, dan malam pukul 17.00–19.00 WAS,” jelasnya.
Kualitas Gizi Konsumsi Haji 2026
Tahun ini, kualitas gizi juga meningkat. Komposisi menu disusun bersama ahli dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan kalangan akademisi.
“Asupan protein meningkat dari sebelumnya 75 gram menjadi 80 gram. Begitu juga dengan nasi, dari 150 gram menjadi 170 gram. Selain itu, jemaah juga mendapatkan buah, susu, dan puding yang bervariasi setiap hari serta air mineral 600 ml,” jelas Indri.
Ia juga mengimbau jemaah agar segera mengonsumsi makanan maksimal dua jam setelah menerima agar kualitas tetap terjaga.
Khusus lansia, layanan lebih fleksibel. Menu dapat menyesuaikan kebutuhan melalui koordinasi dengan ketua kloter.
“Untuk konsumsi lansia, lanjut Indri, sesuai dengan permintaan dari ketua kloter. “Kemudian menyampaikan kepada petugas konsumsi hotel,” terangnya.
Dengan layanan yang rapi dan terukur, kebutuhan dasar jemaah terpenuhi tanpa mengganggu ibadah. Fokus pun tetap terjaga, dari kamar hotel hingga ke Masjid Nabawi. (bro2)

