BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Anggapan bahwa Pulau Kalimantan sepenuhnya aman dari ancaman gempa bumi tektonik mulai terpatahkan. Hasil pemantauan dan kajian terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa daratan Kalimantan memiliki sejumlah sesar aktif. Artinya sangat berpotensi memicu gempa bumi berkekuatan besar.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, mengungkapkan bahwa potensi gempa maksimum Kalimantan dapat mencapai magnitudo 6,9 hingga 7,0. Nilai itu tercapai apabila segmen sesar sepanjang sekitar 100 hingga 110 kilometer bergerak secara bersamaan.
“Kalau bergerak bareng sepanjang yang sobek itu, maka potensi maksimumnya bisa 6,9 sampai 7,0 magnitudo,” kata Rasmid, Selasa (16/6/2026).
Ia mengungkapkan hasil pengamatan Stasiun Geofisika Balikpapan terhadap aktivitas seismik telah terjadi peningkatan gempa lokal dalam beberapa tahun terakhir.
“Seluruh gempa yang tercatat berasal dari aktivitas sesar lokal Kalimantan, bukan dampak rambatan gempa dari wilayah lain,” ungkapnya.
Peningkatan Aktivitas Seismik
Data BMKG mencatat sebanyak 25 kejadian gempa lokal terjadi sepanjang periode 1915 hingga 1998. Jumlah tersebut menurun menjadi 22 kejadian pada rentang 2000 hingga 2014.
Aktivitas seismik kembali meningkat pada 2015 dengan 43 kejadian gempa lokal. Setelah sempat melandai menjadi 21 kejadian pada 2016, 13 kejadian pada 2017, dan 16 kejadian pada 2018, jumlah gempa kembali turun menjadi lima kejadian pada 2019 dan sembilan kejadian pada 2020.
Namun sejak 2021, peningkatan aktivitas gempa berlangsung cukup signifikan. BMKG mencatat 26 kejadian gempa lokal pada 2021 dan meningkat menjadi 41 kejadian pada 2022.
Lonjakan paling mencolok terjadi pada 2023 dengan 94 kejadian gempa. Angka tersebut melonjak tajam menjadi 238 kejadian pada 2024 dan 240 kejadian sepanjang 2025. Sementara hingga pertengahan 2026, BMKG telah merekam 55 kejadian gempa lokal.
“Aktivitas gempa terjadi peningkatan yang signifikan sejak 2021 sampai sekarang, mungkin tiga kali lipat. Biasanya puluhan, sekarang sudah ratusan,” ujar Rasmid.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan adanya fase pelepasan energi batuan yang tersimpan dalam waktu lama pada struktur geologi Kalimantan. “Nah itu sebelum 2020 ke arah sana itu tidak terlalu signifikan. Mungkin masa itu, itu masa pengumpulan energi,” ucapnya.
Menurut Rasmid, tekanan tektonik yang berasal dari arah barat, timur, dan selatan menyebabkan akumulasi energi pada batuan bawah permukaan bumi. Ketika batuan tidak lagi mampu menahan tekanan tersebut, energi akan terlepas dalam bentuk gempa bumi. (bro2)

