BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Selama bertahun-tahun, Pulau Kalimantan kerap dianggap sebagai wilayah yang relatif aman dari ancaman tsunami. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan menepis anggapan tersebut. Bahkan menegaskan bahwa potensi bencana itu tetap mengintai kawasan Pantai Timur Kalimantan, khususnya Teluk Balikpapan.
Wilayah yang mencakup Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan memiliki kerentanan terhadap gempa bumi dan tsunami. Ancaman tersebut bersumber dari aktivitas tektonik regional serta kondisi geologi bawah laut yang mampu memicu gelombang tsunami.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, mengatakan wilayah utara Kalimantan menghadapi ancaman dari sejumlah sumber gempa besar yang berada luar pulau.
“Untuk wilayah utara seperti Kaltara dan Kaltim bagian utara, sumber ancamannya cukup banyak. Ada Subduksi Utara Sulawesi, Subduksi Ganda Maluku, hingga Subduksi Filipina,” kata Rasmid, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, apabila zona penunjaman lempeng atau megathrust tersebut mengalami patahan dan memicu gempa besar, gelombang tsunami yang terbentuk dapat menjalar hingga pesisir Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.
Ancaman berbeda mengintai wilayah tengah Pantai Timur Kalimantan, seperti Samarinda, Bontang, dan Teluk Balikpapan. Kawasan ini tidak berhadapan langsung dengan sumber subduksi besar, tetapi memiliki risiko akibat karakteristik batimetri Selat Makassar yang sangat curam.
Rasmid menjelaskan, kondisi dasar laut yang curam rentan mengalami longsoran ketika menerima guncangan gempa dari sesar aktif wilayah barat Sulawesi, seperti yang terjadi pada Gempa Palu 2018 dan Gempa Mamuju.
“Ketika ribuan meter kubik material tanah longsor pada dasar laut yang curam, stabilitas air laut akan terganggu dan membentuk gelombang tsunami yang menjalar ke segala arah, termasuk ke Balikpapan,” jelasnya.
Meski tinggi gelombang tsunami akibat longsoran bawah laut kurang dari satu meter saat berada pada laut lepas, kondisi pesisir tertentu justru dapat memperbesar dampaknya. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian BMKG adalah Teluk Balikpapan.
Rasmid menilai bentuk teluk yang sempit dan relatif dangkal berpotensi memperkuat gelombang tsunami melalui efek amplifikasi.
“Ketika gelombang masuk ke teluk yang sempit, terjadi pemantulan atau superposisi gelombang yang saling bertumpuk. Fenomena ini membuat amplitudo atau ketinggian gelombang yang menghantam daratan menjadi jauh lebih tinggi. Ini yang kita khawatirkan untuk Teluk Balikpapan,” pungkasnya. (bro2)

