BERANDAPOST.COM, BALIKPAPAN – Sejarah salat tarawih memang cukup menarik untuk mengetahuinya. Sejarah salat tarawaih mulai dari zaman Nabi hingga abad kini.
Umat Islam Kota Balikpapan telah melaksanakan salat tarawih secara berjemaah dalam setiap masjid maupun musala. Jumlah rakaatnya berbede-beda. Ada yang 8 rakaat dengan tiga witir, ada juga yang 13 rakaat termasuk witir. Bahkan jumlah rakaat salat tarawih ada yang lebih dari itu.
Begitu juga salat tarawih perdana dalam Masjid Negara IKN, telah berlangsung pada malam 1 Ramadan 1447 Hijriah atau Rabu (19/2/2026). Ribuan jemaah bersama Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono melaksanakan salat tarawih.
Salat tarawih menjadi salah satu ibadah khas bulan Ramadan yang selalu dinantikan umat Islam. Ibadah sunah ini setelah salat Isya dan berlangsung sepanjang malam Ramadan.
Namun, bagaimana sebenarnya sejarah salat tarawih dalam tradisi Islam? Umat muslim Kota Balikpapan dan sekitarnya tentu perlu juga untuk mengetahuinya.
SEJARAH SALAT TARAWIH
Sejarah salat tarawih tentunya mengacu sejak masa Nabi Muhammad SAW. Pada beberapa malam Ramadan, Nabi melaksanakan salat malam secara berjemaah dalam masjid. Para sahabat kemudian mengikuti beliau hingga jumlah jemaah semakin banyak.
Riwayat Aisyah binti Abu Bakar dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi tidak keluar pada malam berikutnya karena khawatir salat tersebut menjadi wajib atas umatnya.
Sejak itu, salat malam Ramadan lebih banyak secara sendiri-sendiri. Nabi tidak pernah menetapkannya sebagai kewajiban.
Memasuki masa pemerintahan Abu Bakar, praktik tersebut tetap berlangsung. Umat Islam melaksanakan salat malam dalam kelompok kecil atau sendiri dalam masjid.
Perubahan terjadi pada masa Umar bin Khattab. Ia melihat umat Islam salat terpisah-pisah dalam beberapa kelompok. Umar kemudian mengumpulkan mereka dalam satu jemaah dengan satu imam, yaitu Ubay bin Ka’ab.
Kebijakan itu tercatat dalam riwayat Sahih Bukhari. Umar menyebutnya sebagai “sebaik-baik bid’ah”, karena bentuk berjemaahnya disatukan kembali, meski dasarnya telah mencontoh dicontohkan Nabi.
Sejak saat itu, salat Tarawih berjemaah menjadi tradisi yang terus hidup dalam dunia Islam.
JUMLAH RAKAAT SALAT TARAWIH
Istilah “tarawih” sendiri berasal dari kata “tarwihah” yang berarti istirahat. Pada masa sahabat, mereka beristirahat setiap selesai empat rakaat karena panjangnya bacaan Al-Qur’an.
Terkait jumlah rakaat, terdapat perbedaan pendapat ulama. Riwayat dari Aisyah binti Abu Bakar dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim menyebutkan Nabi tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat termasuk witir. Namun, pada masa Umar, sebagian riwayat menyebutkan pelaksanaan 20 rakaat.
Mayoritas ulama melihat perbedaan tersebut sebagai bagian dari kelonggaran syariat dalam ibadah sunah.
Sedangkan untuk Indonesia, salat tarawih berkembang dengan ciri khas lokal. Banyak masjid menyertakan ceramah singkat, tadarus Al-Qur’an, hingga kegiatan sosial seperti buka puasa bersama.
Sementara Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, salat tarawih lazim dengan bacaan panjang dan target khatam 30 juz selama Ramadan. Meski pada Ramadan tahun ini hanya 10 rakaat dengan tiga witir.
Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa tarawih bukan ibadah baru. Umat Islam hanya meneruskan praktik yang telah Nabi contohkan dan mendaat penataan kembali pada masa Khalifah Umar. (bro2)


