BERANDAPOST.COM, TANA PASER – Ekonomi Kabupaten Paser tetap menunjukkan tren positif pada 2026. Pemerintah daerah optimistis pertumbuhan ekonomi daerah akan tetap stabil meski sempat terpengaruh dinamika ekonomi nasional pada tahun sebelumnya.
Optimisme tersebut muncul setelah pemaparan data ekonomi terbaru oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Paser.
Kepala BPS Paser, Bayu Agung Prasetyo, menyampaikan kondisi ekonomi daerah relatif stabil jika membandingkan data dua tahun terakhir.
Ia memaparkan hal tersebut saat bertemu Bupati Paser Fahmi Fadli di ruang kerja Bupati, Lou Bepekat, Rabu (4/3/2026).
“Pertumbuhan ekonomi saat ini berada pada angka 3,61 persen,” jelas Bayu.
Menurutnya, kondisi ekonomi 2026 tidak jauh berbeda dari 2025. Namun jika membandingkan tren sejak 2024, stabilitas ekonomi daerah masih terjaga.
Ketergantungan Tambang Mulai Menurun
Selain pertumbuhan ekonomi, BPS juga mencatat perubahan struktur ekonomi daerah. Ketergantungan terhadap sektor ekstraktif mulai menurun.
Kontribusi sektor pertambangan sebelumnya mencapai sekitar 61 persen. Kini angka tersebut turun menjadi 54,89 persen.
Sebaliknya, sejumlah sektor lain mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta industri pengolahan mulai memberi kontribusi lebih besar bagi ekonomi daerah.
Bayu menilai pergeseran tersebut menunjukkan proses transformasi ekonomi mulai berjalan.
Selain itu, pola konsumsi masyarakat juga berubah. Aktivitas perdagangan daring memberi peluang baru bagi pelaku usaha rumah tangga.
Indikator Sosial Ekonomi Membaik
BPS juga mencatat perbaikan sejumlah indikator pembangunan daerah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 75,13 pada 2024 menjadi 75,85 pada 2025.
Sementara itu, rasio gini yang menggambarkan ketimpangan pendapatan tercatat naik tipis dari 0,271 menjadi 0,273. Sedangkan pada sisi lain, tingkat kemiskinan justru menurun dari 8,63 persen menjadi 8,13 persen.
Selanjutnya, tingkat pengangguran terbuka juga relatif stabil pada angka 4,62 persen. Angka tersebut masih lebih rendah daripada rata-rata Kalimantan Timur sebesar 5,18 persen. (bro2)



